Siapa
yang suka menonton serial Masha and the Bear? Ini adalah cerita kesukaan
Saladin sejak dia masih balita (sampai sekarang). Masha adalah gadis kecil di
Rusia yang tinggal di hutan, bersama beruang dan teman-teman binatang lain.
Masalahnya, dia sering disebut ‘nakal’.
Masha
kecil dibilang bandel karena sangat aktif (suka berlari dan mengeksplorasi
hutan sendirian). Dia juga beberapa kali kena masalah karena merusak suatu
barang (milik beruang). Padahal maksud awalnya baik, karena Masha berusaha
untuk membantu dan memperbaiki barang tersebut. Akan tetapi karena belum punya skill teknikal, barangnya jadi tambah
rusak.
Dari
cerita Masha daku jadi bertanya-tanya, mengapa ada orang yang terlalu mudah
untuk memanggil anak dengan sebutan ‘nakal’ padahal sebenarnya dia hanya aktif
dan lincah? Memangnya anak baik itu seperti apa? Bukannya nakal itu kalau
melanggar peraturan seperti bolos sekolah, atau yang lebih parah, mencuri
barang milik orang lain?
Standar
Anak Baik yang Anteng dan Mudah Diatur
Kita
kembali ke era sebelum tahun 2000. Kala itu, banyak guru yang berharap
murid-muridnya anteng (kalem) sehingga beliau mudah mengajar. Bahkan daku masih
ingat dulu ada kuis konyol alias tantangan anteng-antengan. Jadi murid yang
paling bisa diam yang boleh pulang duluan.
Bisa
jadi yang mengecap anak lain itu bandel adalah produk dari pembelajaran
‘anteng’ tersebut. Standar anak baik adalah yang kalem, tak banyak tingkah,
pendiam, dan mudah diatur. Makin anteng makin baik dan dicap sebagai anak
hebat.
Padahal
mereka lupa kalau anak itu manusia, bukan robot yang bisa disetel sesuka hati.
Standarisasi di era sebelum tahun 2000 ini memusingkan karena anak yang lincah
sedikit saja langsung dibilang nakal. Mereka belum paham kalau manusia memiliki
berbagai karakter, ada yang cerewet, penuh rasa ingin tahu, suka bergerak dan
memanjat, dan karena hal-hal itu dia malah disebut bandel, aduh!
Hanya
Terlalu Lelah
Ada pihak yang mengecap anak nakal karena apaa? Karena dia ketiban pulung alias setengah terpaksa jadi baby sitter dadakan (dan tidak dibayar).
Dia kecapekan
mengejar anak yang sedang lincah-lincahnya dan memang usianya sudah hampir
lansia. Karena lelah akhirnya itu bocah dipanggil nakal dan enggak mau diam.
Perbedaan
Zaman
Memang
anak harus dididik sesuai dengan zamannya dan tidak bisa sembarang dititipkan
(ke pengasuh yang usianya jauh lebih tua). Penyebabnya karena perbedaan usia
yang terlalu banyak. Ketika era sudah berubah maka standar ‘anak baik’ juga
telah berubah. Kalaupun terpaksa anak dititip ke nenek/kakek, pastikan ada baby
sitter, sehingga mereka tinggal mengawasi tanpa harus menggendong/mengganti
popok.
Zaman
sudah berubah dengan begitu cepat. Kita tidak berada di era ‘harus seragam
pemikirannya’ atau ‘kudu anteng dan sediam emas’. Namun di masa teknologi informasi,
memiliki anak yang lincah, dan penuh rasa ingin tahu, adalah hal yang sangat
wajar. Jangan sedikit-sedikit dicap nakal karena dia sangat aktif (selama tidak
membahayakan diri sendiri).
Mengobati
Luka Hati Anak yang Dicap Nakal
Lantas
bagaimana mengobati luka hati anak yang sudah terlanjur dicap nakal oleh orang
tuanya? Sebelum tidur dan sesaat setelah bangun adalah masa yang paling tepat
untuk membisikkan sugesti positif. Jadi anak akan yakin bahwa yang dia lakukan
itu tidak apa-apa dan dia bukan anak nakal. Pastikan juga dia dipanggil dengan
sebutan ‘anak baik’ atau julukan positif lainnya.
Mengasuh
anak memang butuh kesabaran seluassss samudraaa dan melihat reaksi orang lain
terhadap anak kita juga kudu tebal kuping. Jangan malah emosi dan senggol
batjok ketika anak dibilang nakal oleh mereka. Namun pastikan anak akan percaya
bahwa dia adalah anak baik dan cerdas, serta tentu saja diarahkan agar kekuatan
fisiknya digunakan untuk membantu sesama,





Tidak ada komentar:
Posting Komentar