Minggu, 24 Mei 2026

Mengapa Mereka Terlalu Mudah Memanggil Anak dengan Sebutan Nakal?

 

Siapa yang suka menonton serial Masha and the Bear? Ini adalah cerita kesukaan Saladin sejak dia masih balita (sampai sekarang). Masha adalah gadis kecil di Rusia yang tinggal di hutan, bersama beruang dan teman-teman binatang lain. Masalahnya, dia sering disebut ‘nakal’.

Masha kecil dibilang bandel karena sangat aktif (suka berlari dan mengeksplorasi hutan sendirian). Dia juga beberapa kali kena masalah karena merusak suatu barang (milik beruang). Padahal maksud awalnya baik, karena Masha berusaha untuk membantu dan memperbaiki barang tersebut. Akan tetapi karena belum punya skill teknikal, barangnya jadi tambah rusak.



Dari cerita Masha daku jadi bertanya-tanya, mengapa ada orang yang terlalu mudah untuk memanggil anak dengan sebutan ‘nakal’ padahal sebenarnya dia hanya aktif dan lincah? Memangnya anak baik itu seperti apa? Bukannya nakal itu kalau melanggar peraturan seperti bolos sekolah, atau yang lebih parah, mencuri barang milik orang lain?

Standar Anak Baik yang Anteng dan Mudah Diatur

Kita kembali ke era sebelum tahun 2000. Kala itu, banyak guru yang berharap murid-muridnya anteng (kalem) sehingga beliau mudah mengajar. Bahkan daku masih ingat dulu ada kuis konyol alias tantangan anteng-antengan. Jadi murid yang paling bisa diam yang boleh pulang duluan.

Bisa jadi yang mengecap anak lain itu bandel adalah produk dari pembelajaran ‘anteng’ tersebut. Standar anak baik adalah yang kalem, tak banyak tingkah, pendiam, dan mudah diatur. Makin anteng makin baik dan dicap sebagai anak hebat.



Padahal mereka lupa kalau anak itu manusia, bukan robot yang bisa disetel sesuka hati. Standarisasi di era sebelum tahun 2000 ini memusingkan karena anak yang lincah sedikit saja langsung dibilang nakal. Mereka belum paham kalau manusia memiliki berbagai karakter, ada yang cerewet, penuh rasa ingin tahu, suka bergerak dan memanjat, dan karena hal-hal itu dia malah disebut bandel, aduh!

Hanya Terlalu Lelah

Ada pihak yang mengecap anak nakal karena apaa? Karena dia ketiban pulung alias setengah terpaksa jadi baby sitter dadakan (dan tidak dibayar). 



Dia kecapekan mengejar anak yang sedang lincah-lincahnya dan memang usianya sudah hampir lansia. Karena lelah akhirnya itu bocah dipanggil nakal dan enggak mau diam.

Perbedaan Zaman

Memang anak harus dididik sesuai dengan zamannya dan tidak bisa sembarang dititipkan (ke pengasuh yang usianya jauh lebih tua). Penyebabnya karena perbedaan usia yang terlalu banyak. Ketika era sudah berubah maka standar ‘anak baik’ juga telah berubah. Kalaupun terpaksa anak dititip ke nenek/kakek, pastikan ada baby sitter, sehingga mereka tinggal mengawasi tanpa harus menggendong/mengganti popok.



Zaman sudah berubah dengan begitu cepat. Kita tidak berada di era ‘harus seragam pemikirannya’ atau ‘kudu anteng dan sediam emas’. Namun di masa teknologi informasi, memiliki anak yang lincah, dan penuh rasa ingin tahu, adalah hal yang sangat wajar. Jangan sedikit-sedikit dicap nakal karena dia sangat aktif (selama tidak membahayakan diri sendiri).

Mengobati Luka Hati Anak yang Dicap Nakal

Lantas bagaimana mengobati luka hati anak yang sudah terlanjur dicap nakal oleh orang tuanya? Sebelum tidur dan sesaat setelah bangun adalah masa yang paling tepat untuk membisikkan sugesti positif. Jadi anak akan yakin bahwa yang dia lakukan itu tidak apa-apa dan dia bukan anak nakal. Pastikan juga dia dipanggil dengan sebutan ‘anak baik’ atau julukan positif lainnya.



Mengasuh anak memang butuh kesabaran seluassss samudraaa dan melihat reaksi orang lain terhadap anak kita juga kudu tebal kuping. Jangan malah emosi dan senggol batjok ketika anak dibilang nakal oleh mereka. Namun pastikan anak akan percaya bahwa dia adalah anak baik dan cerdas, serta tentu saja diarahkan agar kekuatan fisiknya digunakan untuk membantu sesama,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar