Minggu, 05 Juli 2026

AI vs Human, Ketika Tulisanku Diragukan

 

 

“Kak, reviewnya dibuat setelah baca buku atau hanya melihat data dari AI?”

WHAT? Bujibuneng!

Selama belasan tahun ngeblog baru kali ini daku dapat komentar seperti ini. Klean tahu lah di tulisan yang mana, ada kok, dan komennya juga tidak kuhapus. Tapi tidak kubalas komentarnya, biarlaah, lagian akun anonym, jadi kagak tahu tuh siapa yang nulis.



Memang saat itu daku nulis review buku dengan singkat (hanya 300-an kata) tapi bukan berarti hanya pakai data di AI. Akan tetapi pertanyaan dari akun anonym membuatku berpikir, mengapa sekarang sedikit-sedikit dituduh pakai bantuan AI? Benarkah AI bisa mengalahkan otak manusia?

Bertanya ke AI

            Akhirnya daku langsung tanya ke salah satu AI. Dia jawab bahwa tugasnya bukan sebagai pengganti otak. Melainkan untuk jadi asisten. Dia juga sedih melihat fenomena belakangan bahwa banyak yang ngaku sebagai penulis padahal hanya prompter alias minta tolong AI untuk membuatkan 100% tulisan. Lantas di-copas begitu saja.



            Lantas daku tanya lagi, bagaimana jika ada yang curhat ke AI? Dia bilang kalau AI itu jadi semacam online diary tapi bisa menjawab. Ooh, seperti buku harian Tom Riddle yang ada di film Harry Potter dan Kamar Rahasia.

Karirku Sebagai Penulis Konten

Kita switch dulu ke ceritaku: dulu daku menulis (bekerja) secara freelance ke beberapa agensi content writing. Namun semuanya ambyarr. Mungkin karena bayaran semakin murah, atau banyak yang memilih untuk minta tolong AI aja untuk menulis (lalu diedit dikit). 



Daripada bayar ke agency mending pakai AI. Algoritma juga berubah jauh, jadi mungkin pekerjaan penulis konten sudah tidak cocok bagiku.

Cerita Doraemon

Akan tetapi daku langsung ingat salah satu film Doraemon Petualangan. Dikisahkan Nobita, Doraemon, dkk liburan ke tempat yang jauh sekali. Ternyata mereka masuk ke dalam suatu negeri yang ‘aneh’ karena di sana manusianya pakai bantuan robot untuk berjalan kaki.



Ada orang yang memperingatkan bahwa penggunaan mesin seperti itu tidak baik. Memang kenyataannya manusia jadi susah untuk beraktivitas tanpa bantuan robot, jalan kaki aja harus dengan penuh perjuangan. Lantas apa korelasinya?

Di film Doraemon yang ternyata dibuat tahun 90-an, sudah digambarkan kalau manusia, jika terlalu banyak menggunakan mesin/robot, akan lemah. Jangan sampai otak kita yang jadi lemah karena malas mikir dan dikit-dikit pakai AI, copas saja, bla-bla-bla. Ternyata mendiang Fujiko F Fujio sudah memprediksi hal ini.

AI vs Human

Benarkah sekarang ada peperangan baru: AI melawan manusia? Kita kutip lagi jawaban dari AI kalau dia hanya asisten. Menurutku, AI tidak bisa menggantikan peran manusia. 



Tulisan hasil AI pasti bisa dideteksi dengan mudah (kalau terbiasa baca buku dan Tanya AI) karena ada polanya. Jadi tidak bisa dikatakan ini war.

AI Sebagai Asisten

Lantas apakah daku anti AI? Sekali lagi kukatakan, daku tidak anti AI. Kadang buka AI untuk mencari isnpirasi, jawaban, dan sudut pandang baru. AI juga bilang dia bisa melakukan kesalahan, dan ketika manusia bertanya masalah kesehatan juga ada peringatan sebelumnya. Jadi seharusnya mereka langsung ke dokter saja, bukan tanya AI, gituu.



Poin penting dalam tulisan ini adalah kita tidak boleh saklek untuk anti AI karena dia bisa bantu untuk bikin outline tulisan (meski kadang kurang sesuai selera pribadi). AI juga bisa membuatkan infografis dan gambar yang bagus (tapi hati-hati menggunakannya karena bisa berlisensi non komersil). Makanya banyak yang bela-belain langganan AI berbayar demi mendapatkan lebih banyak fitur yang membantu.

Akan tetapi, kita tidak bisa bersandar terus pada AI. Minta dia untuk bikin tulisan lalu di-copy paste. Ini mah namanya menyontek. Tulisan hasil mikir sendiri juga pasti terasa beda karena feel-nya lebih dapat. Intinya, AI adalah asisten tapi kita jangan terlalu tergantung padanya.

 

27 komentar:

  1. saya suka penulisan ini. AI memang berguna untuk kita bertanyakan info. Tapi manusia semakin terlalu kerap menggunakan AI sampaikan curhat, generate gambar bahkan menulis komentator di blog pun harus pakai AI..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa Kak, jangan sampai ketergantungan. Terima kasih kunjungannya.

      Hapus
  2. bagi sy hebat pun AI takkan dpt tandingi kebijaksanaan otak manusia dan paling nyata AI tu sendiri hasil kepintaran otak manusia juga

    BalasHapus
  3. Hadeuhhh, teknologi yg over used memang bahaya yaa.
    bikin kecurigaan di mana mana.
    kesel juga akutuu
    pengin balik ke masa lampau jadinya

    BalasHapus
  4. Setuju banget mbak Avi. Aku pribadi pun, sebenarnya bukan orang yang anti AI baget. Tapi sayangnya, begitu banyak orang yang sekarang justru terinfluence untuk menggunakan AI sebagai jalan pintas mengerjakan semua hal. Bukannya jadi asisten, AI justru jadi gerbang dari segala kemalasan.
    Padahal, ada satu hal yang gak bisa ditiru oleh AI, yakni taste.. dan jiwa.
    Sebagus2 nya tulisan Ai, tetep aja gak ada jiwanya. Kita nulis ada typo, salah penyajian, dll.. itu ya bagian dari ketidaksempurnaan, yang justru membuat penulisan kita jadi hidup dan berjiwa.

    BalasHapus
  5. Ribet kali ya skg nulis aja udah dicurigai pake AI. Mungkin saja yg orang yang bilang pakai AI buat nulis, justru menggunakan AI buat nulis artikel. Mereka biasanya bias sama prilakunya sendiri, jadi kalau nemu satu dua pola yg sama lgsg deh bilangnitu buatan AI. Pernah baca jurnalnya, cuma aku lupa istilahnya. 🤔

    Nulis zaman sekarang tidak lebih mudah dari zaman dulu. Emang produksinya bisa lebih efisien, tapi kecemderungan dapat stigma ini itu pun sama besarnya. Huehue.. 🥲

    BalasHapus
  6. Sekarang tiap saya motret dengan hasil yang bagus suka dibilang AI sama yang liat, padahal dulunya saya fotgrafer, sedikit banyaknya tau tehnik fotografi yang bagus, dan cara menciptakan foto yang bagus, ketika AI sudah menggantikan, ya sudah saya lebih nyaman di pekerjaan yang sekarang

    BalasHapus
  7. Jujur aku tu kek love hate relationship sama yang namanya AI. Nggak bisa dipungkiri aku suka pakai AI buat diskusi2 kalau mau bikin konten juga, tetapi di sisi lain kadang melihat banyak orang kek ketergantungan sama AI, bahkan menggunakan AI secara iseng2, padahal teknologi AI ini denger2 cukup mempengaruhi kondisi lingkungan juga, ya, sebenarnya. Kalau baca2 artikel gitu.
    Hehe, iya ya kadang ada tools AI tu rada plenger juga, masa tulisan hasil mikir di-screening katanya hasil AI.
    Btw jadi keinget deh sama mbak bloger siapa tu dulu yang sering menang lomba blog. Mbaknya kalau poto kan bagus ya, eh nitijen ngecap itu hasil editan juga, saking bagusnya potonya.
    Yaaa, yaweslah yang penting kita tetep berkarya tanpa plagiat dan nggak ngandelin AI secara plek-ketiplek :D

    BalasHapus
  8. Sekarang ini, bukan hanya manusia yang bisa bebas menuduh sebuah tulisan adalah hasil AI, tool pendeteksi AI yang digunakan oleh kampus pun juga "nuduh" seenaknya hahaha. Pernah liat ada mahasiswa marah besar karena dia tidak sedikitpun pakai AI tapi oleh toolsnya dibilang pakai AI sekian puluh persen. Muntablah dia. Giliran yang pakai AI, malah score AI nya sangat kecil, padahal lebih dari 50% tulisannya pakai AI. Nah ini ada orang yang nuduh Mbak Avi begitu, mungkin error kayak tools AI yang di kampus itu mbak hihihahaha

    BalasHapus
  9. Setuju. Ai. Memang untuk membantu tapi otak utama nya justru adalah kita sendiri sebagai manusia ya...
    Tetap semangat nulis, jangan pedulikan yg kasih komentar. Toh kita nulis di blog sendiri ini. Mau singkat, mau padat, mau curhat terserah kita yg punya rumah ya....

    BalasHapus
  10. Aku setuju kalau penggunaan AI zaman sekarang memang nggak bisa dihindari. Wong memudahkan gitu lho, masa kita mau keukeuh pakai cara kuno ya kan. Tapi bagaimanapun juga AI itu otaknya kan manusia juga, jadi mestinya buatan manusia lebih komprehensif dan luwes.

    Trus fenomena yang kulihat tuh, saking makin asal-asalannya orang nulis sekarang, baca tulisan yang strukturnya rapi dan tidak typo malah dikira AI. Sumpah, sakit banget kalau karya karsa dibilang gitu.. tapi tetap semangat aja lah yaaa...

    BalasHapus
  11. Sebagai suri rumah, saya jarang2 bergantung dengan AI, penulisan blog memang 100% guna tenaga otak sendiri 😅.

    Tapi kalau di tempat kerja, saya faham kenapa ramai orang guna bantuan AI. Salah satunya kerana tiada assistant / orang bawahan untuk delegasi kerja membuat presentation atau research contohnya, deadline kerja yang cepat atau mau bertanya perkara baru kerana teknologi itu bergerak cepat dan AI ternyata punya capaian yang lebih jauh meluas dari enjin carian biasa.

    Cuma hati-hati guna AI, kerana teknologinya tidak sepintar mana dan selalu berlaku kesilapan juga. Jangan sampai jadi viral kerana pernah terjadi satu syarikat ini marketing teamnya guna AI menghasilkan bendera Malaysia tapi ternyata benderanya salah tapi tiada siapa yang check sebelum di publish. Langsung dipanggil polisi untuk siasatan kerana kesalahan menghina negara 😅

    BalasHapus
  12. Agak meresahkan kalau orang beneran pakai AI buat ngerjain tulisan, lalu ia copas gitu aja. Itu udah ada indikasi malas, kemalasan orang tersebut bisa berdampak negatif buat diri dia sendiri. Secara nggak langsung, aku baca tulisan bisa bedain mana yang AI banget dan mana yang hasil karya manusia beneran.

    Bukan anti AI, tetapi sebisa mungkin aku nulis natural hasil pemikiran ku dan nggak mau bergantung sama AI. Takut kebiasaan alias tuman.

    Dalam segala hal, butuh bijaksana. Semoga saja para penulis tetap berjuang dengan pikirannya, tidak mengandalkan AI.

    BalasHapus
  13. Sebagai seorang editor news saya dapat beza tulisan AI dengan manusia. Jika terlalu sempurna dengan gaya yang mendatar maka itulah AI tetapi ada salah dan silap maka itulah tulisan manusia yang asli.

    BalasHapus
  14. Jangankan nulis buat artikel pakai AI Kak, bikin komentar pakai AI aja ketahuan banget kok wkwkwk.
    Daku bukan anti AI, tetapi buat siapapun yang kiprahnya pada dunia literasi alias tulis menulis semestinya AI itu dijadikan buat cari inspirasi sih, bukan buat menggantikan peran.

    BalasHapus
  15. Setuju banget, feel tulisan hasil mikir sendiri itu gak bakal bisa ditiru sama AI sedewa apa pun. Ada ruh dan emosi manusianya yang bikin pembaca ngerasa "klik". Tetap semangat nulis pakai gaya khas sendiri ya!

    BalasHapus
  16. Saya awalnya agak takut juga dengan kehadiran AI. jangan-jangan AI akan menggantikann pekerjaan menulis, termasuk penulis cerita anak. soalnya dikasih kata kunci saja, misalnya buatkan cerita anak tema petualangan, langsung jadi cerita.
    Ternyata benar, AI itu hadir untuk aji asisten, membantu kita saat menulis. AI kan robot, jadi dia tidak ada jiwa dan rasanya. Beda dengan manusia yang menulis pakai hati. So Kita yang memanfaatkan kehadiran AI, bukan AI menggusur kita.

    BalasHapus
  17. Setujuuuu. Aku pun pakai AI hanya utk mencari ide tambahan. Bantuin cari judul, atau bantu bikin ITIN. Tp utk tulisan ttp lebih suka bikin sendiri. Sebagai pembaca aku toh lebih suka baca tulisan yg ditulis sendiri, Krn feel-nya dapet.

    Bedaaa Ama tulisan AI. Kaku, ga enak bacanya. Bosen.

    Kita memang ga boleh anti dengan teknologi. Malah bahaya, Krn nanti JD ga bisa menyesuaikan diri. Tp jangan juga terlalu bergantung dengan itu. Kuatir cepet pikun 😂.

    BalasHapus
  18. Sepakat bun. Namanya alat, jadi hanya untuk membantu. Tetap pikiran kita nomor satu buat nentuin segalanya.

    Memang perkembangan teknologi AI sangat pesat bgt. Dia bs menganalisa apapun meski cuman robot buatan. Asal kita tetap kroscek sana sini, diedit sana sini biar sesuai dengan feel tulisan kita, teknologi AI sangat membantu sekali. Pokoknya jgn kebablasan aja pakenya ya bun. Tinggal copy-paste doank.

    BalasHapus
  19. Zaman sekarang memang sudah mulai ada orang ketergantungan menggunakan Ai sehingga itu menjadi sebuah cara mudah untuk menunjukkan sesuatu tapi bagi saya tulisan itu harus punya nyawa dan juga gaya masing-masing sehingga tidak bisa ditiru oleh Ai dengan mudah dan tetap harus dicek dan dicek kebenarannya

    BalasHapus
  20. Penggunaan AI sekarang memang sudah semakin normal ya dalam berbagai bidang termasuk dunia menulis. Aku juga sekarang suka minta saran AI terkait tulisanku baik dai segi pemilihan kata atau kerangka tulisan. Tapi kalau pakai tulisan AI langsung aku masih no sih karena AI pasti tetap beda banget hasil tulisan AI dengan gaya menulisku sendiri

    BalasHapus
  21. Bener nih aku setuju sama kalimat "tulisan hasil AI pasti bisa dideteksi dengan mudah". Bahkan waktu baca tulisanku sendiri, bagian yang aku tulis sendiri dan minta masukan dari AI kerasa banget feel bahasanya beda. Kadang bagian penutup tuh aku minta masukan AI enaknya gimana, walaupun udah aku edit-edit lagi sesuai mauku, tetap aja kerasa beda sama tulisanku langsung hehehe...

    Cuma aku juga nggak anti AI. Jujur dia memudahkan kala otak buntu di tengah-tengah nulis mau lanjut gimana. Tapi 100% ketergantungan apalagi copas tanpa disaring lagi sih enggak setuju ya.

    BalasHapus
  22. Aku menggunakan ai mbak. Tapi hanya untuk brainstorming ide, membuat outline, atau bikin infografis
    Soal menulis artikel lengkapnya, ya tentu saja ditulis sendiri
    Biar tulisannya punya nyawa

    BalasHapus
  23. Iya, baru sadar setelah banyak membaca, ternyata tulisan AI tuh seragam dan tanpa jiwa ya nggak ada ciri khas penulisnya.. gawat kalau kita kecanduan AI buat menulis..

    BalasHapus
  24. Sediih banget kalo di judging gitu yaa..
    Padahal menulis itu sebuah aktivitas yang gak semua orang mampu.
    Kalo bisa mah.. aku yakin semua bisa menulis. Tapi kalau yang tulisannya nyaman dibaca dan memiliki pesan mendalam seperti tulisan ka Avi, aku rasa ini 100 persen tulisan manusia. Bukan AI yang soulness.

    BalasHapus
  25. Jujur ya, di dunia kerja sekarang, termasuk dunia kreatif, seperti desain, planning konten, menulis, AI itu memang banyak dibilang asisten saja "jangan takut, AI hanya tools"

    Tapi faktanya pebisnis itu gak punya rasa buat nilai suatu karya bagus atau tidak. Jadinya, omongan mereka yang bilang AI hanya tools hanya retorika belaka. Faktanya mereka ingin biaya untuk bayar manusia berkurang, dan berharap AI bisa memberikan hasil berkualitas tanpa ada manusia berkualitas yang menilai hasilnya.

    Parameter bagus atau tidaknya hasil AI dari mereka sederhana, prompt detail. What the fu** bro. AI itu hanya pabrikasi data saja, hasil akhir tetap kita yang nentuin.

    Lagi pula, AI seharusnya digunakan sebagai efisiensi proses, bukan efisiensi kualitas. AI jangan dijadikan sebagai pengambil keputusan paling akhir.

    Kelihatan juga kalau penulis atau orang sudah kecanduan AI itu kaya mana bentuknya.

    BalasHapus