Frugal living?
Akhir-akhir ini frugal living lagi viral ya. Katanya sih orang yang menerapkan frugal living tuh hemat banget sampai bisa nabung buat beli mobil cash, bisa beli rumah, dll. Mereka bela-belain hemat dengan cara jarang ngopi, bawa bekal, jalan kaki, biar tabungannya segunung.
Daku tahu sebenarnya frugal living berfungsi bagus biar kita tidak boros. Tahu sendiri sekarang banyak banget godaan untuk kebawa gaya hidup mewah tapi sayangnya tidak sesuai kantong.
Misalnya jadi member pusat kebugaran tapi jarang olahraga di sana, langganan aplikasi tapi gak pernah dipakai, beli tas branded hanya karena FOMO (fear of missing out), dll.
Frugal Living Tidak untuk Semua Orang
Akan tetapi frugal living tuh sebenarnya gak bisa dipraktekkan di semua keluarga lho. Tergantung juga dari jumlah anak dan lokasi rumahnya. Misalnya harga ayam di Malang masih Rp35.000, tapi di Surabaya (daku tahu karena temen cerita) udah Rp40.000 sekilo. Mana bisa hemat kalau emang harganya mencekik?
Contoh lain adalah ketika gaji suami 4 juta rupiah. Terlihat besar ya? Tapi ternyata malah pas-pasan karena anaknya ada yang ABK sehingga butuh biaya terapi, bayar guru shadow, dll. Biaya-biaya ini tidak bisa dihilangin gitu aja karena menyangkut masa depan anak.
Frugal Living yang Ekstrim Bikin Anak Stunting
Yang paling daku takutkan dari tren frugal living adalah penghematan yang keterlaluan dan jadinya pelit. Ampuun kalo udah ketemu orang pelit itu, umpamanya sengsara dunia akhirat.
Mentang-mentang praktekkan frugal living jadi pelit banget ke anak dan anggota keluarga lain. Misalnya nih, harga minyak goreng masih belum turun juga. Harga telur juga sama, tinggi tinggi sekali. Akhirnya sarapan yang biasanya pakai menu nasi goreng ceplok diganti dengan nasi bertabur garam. Itupun garam kotakan, bukan garam kemasan yang beryodium.
Karena menganut frugal living, biaya beli susu dihilangkan sama sekali. Memang sih kalsium juga ada di brokoli dan keju, tapi harganya juga lumayan (jika dipandang dari kacamata ibu yang masuk golongan menengah ke bawah).
Akibatnya apa? Anak jadi stunting dan kurang gizi karena kurang asupan protein, kalsium, dan nutrisi lain. Stunting itu bahaya banget, bukan hanya karena bikin tinggi badan anak jadi di bawah standar, tetapi juga karena berpengaruh bagi kecerdasan anak.
Memang kalau sudah punya anak rasanya pengeluaran berkali-kali lipat, terutama untuk pemenuhan gizinya. IMHO, masalah dapur tidak bisa difrugal livingkan sama sekali karena malah bikin sengsara ke depan.
Ayo, please deh, bagi yang berprinsip frugal living kudu lihat situasi dan jangan dimakan mentah-mentah teorinya. Klean mau punya kalung emas setumpuk yang dibeli dari hasil tabungan, tapi anaknya nangis karena badannya pendek (dan ia gagal masuk ke pekerjaan tertentu yang mensyaratkan minimal tinggi badan). Atau punya properti banyak tapi terancam stunting.
Ingat yaa, frugal living tidak untuk semua orang, terutama yang masih punya bayi dan balita. Jangan berkedok frugal living tapi emang aslinya pelit bin medit sampai bikin sengsara keluarga.
Daku gak bermaksud nakut-nakutin, tapi sudah banyak ketemu orang yang macam ini lah, dan kalau mau baca tentang bahaya stunting silakan cari sumber lain yang lebih capable (karena daku bukan tenaga kesehatan).
















