Jumat, 26 Januari 2024

Pelajaran Parenting dari Gadis Kretek the Series

 Siapa udah nonton seriesnya Gadis Kretek atau baru baca review Gadis Kretek? Emang seruu banget ya nonton aktingnya Dian Sastro dan Ario Bayu. Apalagi setting series ini tahun 60-an dan tahun 2001, serta digarap dengan sangat detail.



Gadis Kretek menceritakan tentang kegigihan Dasiyah (Jeng Yah) yang merupakan anak dari produsen rokok kretek di Kota M. Jeng Yah ingin membuat saus kretek yang baru, yang bisa membawa lebih banyak pembeli. Di tengah perjuangannya, ada Raya (Soeraja) yang membantu mewujudkannya.

Soeraja memiliki 3 anak: Tegar, Karim, dan Lebas. Si bungsu Lebas yang tengil diberi tugas oleh sang rama (ayah) untuk mencari keberadaan Jeng Yah.



Tapii kali ini daku gak mau bahas tentang cerita Gadis Kretek. BTW kalau mau baca review novel Gadis Kretek di sini:

Novel Gadis Kretek yang Ceritanya Lebih Detail

Gadis Kretek dan Parenting ala Idroes vs Djaja vs Soeraja

Menurutku Gadis Kretek versi series mengandung beberapa pelajaran parenting yang bisa kita tiru. Meski settingnya jaman dulu tetapi masih bisa diaplikasikan di era modern.

Dasiyah yang Diajari untuk Bekerja

Dasiyah (diperankan oleh Dian Sastro) adalah anak sulung dari juragan kretek, Idroes Moeria. Berbeda dari kebiasaan di tahun itu (1960-an), Pak Idroes memberi pendidikan tinggi untuk anak-anaknya. Bahkan Dasiyah diajak untuk ikut mengurusi usaha rokok kretek (meski saat itu masih skala rumahan).



Ketika Dasiyah mendapatkan pertolongan dari Seno Aji (pria yang dijodohkan dengannya - yang diperankan oleh Ibnu Jamil), awalnya ada penolakan. Dasiyah bilang kalau sejak kecil ia diajari orang tuanya untuk bekerja terlebih dahulu, baru mendapatkan keinginannya.

Nahh ini daku setuju banget ama didikan Pak Idroes. Sejak kecil anak wajib diajari kerja dan bantu orang tuanya. Karena tidak ada makan siang gratis di dunia ini.

Purwanti as a Princess



Beda jauh dengan Dasiyah, Purwanti digambarkan sebagai gadis remaja yang masih suka bermain-main. Purwanti (diperankan oleh Sheila Dara) adalah sahabat Rukayah, adik Dasiyah. Ia, yang merupakan putri dari Djaja, bagai seorang princess yang tidak perlu repot mengurusi pekerjaan atau membantu sang ayah.

Idroes yang Tidak Melarang Rukayah



Ternyata Purwanti adalah anak dari saingan bisnis Pak Idroes. Namun beliau bersikap bijak dan mempersilakan Rukayah (diperankan oleh Tissa Biani) bergaul dengan Purwanti. Pak Idroes tidak takut jika Purwanti menjadi mata-mata ayahnya.

Lebas yang Dimanja oleh Orang Tuanya



Lebas (diperankan oleh Arya Saloka) digambarkan sebagai pria yang seenaknya sendiri dan money oriented. Siapa yang mengajari? Tentu orang tuanya. Bahkan Raya pernah gemas karena Lebas minta uang melulu lalu memberinya uang tunai sebanyak 200 juta rupiah. Itu tahun 90-an lho dan besar sekali!

Bagaimana bisa seorang anak dididik dengan uang? Pemanjaan yang berlebihan tentu tidak baik, bukan?

Beban Tegar Sebagai Anak Pertama



Berbeda dengan Lebas, Tegar (diperankan oleh DJ Winky) lebih serius dan memang di-plot oleh sang ayah untuk menjadi pemimpin di perusahaan rokok. Anak pertama rata-rata menanggung beban. Dia harus jadi leader, memberi contoh untuk adiknya, dll.

Arum yang Mandiri dan Anti-Rokok



Arum (diperankan oleh Putri Marino) sangat mandiri dan berkebalikan dengan si Lebas. Bahkan ia berani mengusir tokek dan membetulkan genteng sendiri (naik tangga). Ini adalah hasil didikan Rukayah, ibu asuhnya.

Meski Rukayah dulu adalah orang berada tetapi ia tidak mau memanjakan Arum. Hasilnya, Arum sukses menjadi wanita kuat dan berkarir sebagai seorang dokter. Walau keluarga leluhurnya adalah pemilik usaha rokok, tetapi ia sangat anti-rokok. Yaa wajar lah karena ia adalah seorang tenaga kesehatan.



Gimana gaees, masih ter Jeng Yah- Jeng Yah dan belum move on dari serial Gadis Kretek? Series ini memang fiksi sejarah-roman tetapi juga memiliki pelajaran parenting yang bisa dicontoh. Jangan memanjakan anak secara berlebihan.

14 komentar:

  1. aku suka film sama novel nyaaaa...meskipun ada beberapa perbedaan antara kedua nya tapi dua2nya juga bagus...
    bener juga yaa ada kisah parenting di dalamnya, baru nyadar loo hehehe selama ini menikmati saja cerita film sama novelnya tanpa memeprhatukan insight di dalamnya dan ternyata ada berbagai kisah parenting yg bermanfaat :)

    BalasHapus
  2. Di novel Lebas digambarkan jauh lebih manja. Di film aku kaget perubahan karakternya jauh lebih dewasa malah Tegar yang di novel lebih selow dan ngayom, eh di film malah lebih emosian haha. Terlepas dari itu, ini novel dan series favorit akuuu.

    BalasHapus
  3. Karakter dalam film Gadis Kretek mencerminkan jika parenting tiap orang tua tak semua sama. Selain itu, lingkungan sekitar juga berperan penting bagaimana karakter itu tumbuh dan berkembang.

    BalasHapus
  4. Parenting ala Pak Idroes keren banget sih, dan alhamdulillah keluarga ku pun menerapkan pola seperti itu. Buku Gadis Kretek udah 2x aku baca, namun film nya sampai saat ini belum sempat di tamatkan, padahal bagus banget dari sisi cerita dan pemain. Semoga weekend nanti bisa nonton sampai final.
    Setuju pake banget, terkait "jangan terlalu memanjakkan anak secara berlebihan" Itu berbahaya, apalagi dunia fana ini keras dan penuh ketidak pastian..harus dibiasakan bisa mencari solusi, berusaha sendiri dan cara-cara bertahan yang baik..

    BalasHapus
  5. Kemaren ke-distract sama Samdal-ri, jadi belum sempet mau lanjutin nongton film iniii. Tapi sekilas emang aktingnya ario bayu goooks banget soh, seems like another level. Apalagi ini line upnya bintang semua.

    Tapi aku kayaknya mau beli kovelnya dulu deh. Biar sekalian ngejar target baca buku 2024 di goodreads ehehehe

    BalasHapus
  6. Belum nonton filmnya apalagi baca novelnya, ah, kemana saja saya selama ini? Beberapa kali lewat di linimasa media sosialku, tapi belum ngeh. Baiklah, saya rencana mau baca novelnya dulu lalu nonton seriesnya.

    BalasHapus
  7. Saya belum nonton film Gadis Kretek ini bunda, beberapa temen yang sudha nonton katanya rekomended banget bagus filmnya, alurnya, sampai sinematografinya, ditambah lagi banyak yang review katanya bagus, jadi penasaran pengen nonton

    BalasHapus
  8. Kelihatan ya, Dasiah itu passion banget sama apa yang dikerjakannya. Orangnya juga pekerja keras dan pantang menyerah, tentunya pasti karena didikan orang tuanya. Ternyata di dalam cerita ini ada banyak pelajaran parentingnya, saya baru nonton 3 episode kalau nggak salah dan belum lanjut lagi. Hehe..

    BalasHapus
  9. Di novel dan film ini terasa banget penokohannya... terasa banget mana anak sulung, seperti apa karakter 'princess' dan sebagainya. Dua-duanya bagus, baik novel maupun filmnya dua jempol...

    BalasHapus
  10. Aku akhirnya namatin juga dramanya 🤣🤣🤣. Setelah sempet stuck.

    Naah memang keturunan jeng yah lebih bagus didikannya yaa. Ga sekedar dimanjain aja.

    Aku sukaaa 👍🏿

    Kalo dari keluarga soeraja, mungkin Krn dia sendiri terpaksa nikah Ama purwanti, jadi udh males duluan ngurusin anaknya. Ditambah Purwanti ya manja 😅. Eh tapi lebas walopun manja dan suka minta duit, setidaknya ttp baik sih. Rasa kemanusiaannya msh ada. Itu yg salutnya juga 👍🏿

    BalasHapus
  11. Duh aku belum nonton Gadis Kretek, ketinggalan banget euforianya. Jeng Dasiyah tuh mandiri dan tipe leader banget ya..

    BalasHapus
  12. Wah keren reviewnya dr sudut pandang parenting. Aku nonton sekilas ngerasanya lbh condong ke romansa dan konflik. Filmnya oke sih menurutku. Tp blm baca novelnya, jgn² lbh seru novel

    BalasHapus
  13. Gadis Kretek ini memang sangat menarik ya, menilik dari sisi parentingpun bisa, kalau aku meniliknya dari segi takdir, sempat review juga. Jadi ga sabar buat baca novelnya karena baru nonton filmnya.

    BalasHapus
  14. Duh belum nonton serial maupun baca novelnya tapi dari baca berbagai ulasan kelihatannya menarik ya. Apalagi ada pelajaran juga yang bisa kita petik dari Gadis Kretek ini, termasuk salah satunya gimana karakter yang ditampilka para pemeran tidak lepas dari didikan orang tuanya

    BalasHapus