Judulnya memang sengaja
dibuat besar untuk menampakkan kepanikan. Bagaimana daku tidak pusing dan sedih
kalau Saladin, 13 tahun, berlari menerobos hujan sendirian? Apalagi saat itu
ayahnya sedang keluar kota sehingga tidak ada yang membantuku. Begini cerita
lengkapnya.
Hari minggu tanggal 12
April 2026. Daku ada 2 rencana: menghadiri arisan PKK RT jam 16:00 dan
mengunjungi rumah ibu mertua jam 18:00 (kami tinggal di satu kota). Saladin
sudah kuberi tahu jauh-jauh hari dan dia mau untuk ikut arisan (biasanya
begitu, nempel bundanya, modus minta kue juga wkkwkwk).
Jam 16:00 kami datang
ke rumah tetangga yang jadi host
arisan. Saladin makan beberapa jenis snack
tapi dia kaget karena undangan yang datang semakin banyak. Dia pun izin
pulang duluan. Di sinilah kesalahanku karena membiarkannya bawa HP-ku (untuk
menonton).
Kecemasan
Dimulai
Sekitar 10 menit
kemudian, hujan turun dengan deras. Saladin tiba-tiba datang sambil bawa tas
ransel dan payung. Apa dia menjemput? Segera kususul tapi dia malah lari,
menuju gerbang perumahan. TOLOOOONG, ANAKKU KABUR!
Saladin malah makin
cepat larinya ketika kupanggil namanya. Dia belok kanan ke arah sekolahnya
(yang letaknya dekat, sekitar 800 meter dari rumah). Akan tetapi di pertigaan
dia malah belok kanan. Kalau belok kiri ke arah rumah ortuku, dan kalau kanan
berarti ke rumah mertua.
Daku semakin kencang
berlari, untung tidak kepeleset, padahal waktu itu hujan deras. Karena panik
maka tidak sempat pinjam payung. Ada beberapa orang yang membantu untuk
menangkap Saladin tapi gagal.
Kemudian ada seorang
pria yang jadi penyelamat. Beliau, yang nongkrong di depan barbershop, kumintai tolong untuk membantu. Akhirnya si-mas membawa
motor dan mencari Saladin (kuberi tahu clue-nya:
anak laki-laki pakai payung). Eh ternyata….
Saved by Skatepark
Saladin malah belok ke
sebuah skatepark dan dia memperlambat
jalannya. Alhamdulillah akhirnya tertangkap. Ternyata dia numpang mau ke toilet
di area skatepark tersebut.
Dengan gemetar dan
keringat bercucuran, kupeluk Saladin erat-erat. Kupinjam HP yang ada di
tangannya lalu memesan taksi online.
Alhamdulillah ada driver yang mau
ambil order-an padahal hujan semakin
deras.
Sekitar 10 menit
kemudian mobil taksi online datang.
Alhamdulillah lagi pak sopirnya baik, tidak keberatan walau kala itu gamisku
dalam keadaan basah. Setelah itu kulihat aplikasi peta dan ternyata…jarak dari
rumahku ke rumah mertua adalah 6,8 kilometer!
Gara-Gara
Hujan
Kok bisa Saladin punya
ide untuk jalan kaki ke rumah neneknya? Itu karena salahku juga. Kubilang kalau
misalnya hujan, tidak jadi berangkat tidak apa-apa ya? Karena rencananya kami
berangkat diantar oleh adikku (naik motor) tapi pulangnya naik taksi online.
Mungkin Saladin takut
tidak jadi berangkat makanya dia nekat jalan sendiri (dan menghemat uang).
Padahal kebahagiaan anak lebih berharga daripada ongkos taksi (karena kami
sudah cukup lama tidak bertandang ke rumah neneknya juga). Tidak apa-apa,
penyesalan memang selalu ada di belakang, dan daku jadi belajar untuk lebih
menepati janji (juga mengajari anak untuk lebih sabar).
FYI mengapa dia
impulsive? Bagi klean yang baru pertama baca blog ini, Saladin adalah remaja
ADHD dan kadang kumat macam begini. Makanya dia kuat jalan kaki, bahkan
berlari, karena ketangguhan fisiknya jauh di atas rata-rata. Tentu saja daku
harus mengarahkan agar kekuatannya untuk menolong orang lain, bukan untuk
menyakiti, apalagi untuk kabur.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar