Rabu, 22 April 2026

Work From Home Tidak Semudah Itu

 

Pernah enggak sih klean lihat iklan WFH di sosial media? Ketika banyak orang yang menawarkan kelas remote working dan memaparkan bayarannya yang tinggi (bisa ratusan dollar per proyek), siapa yang tidak ngiler? Tapi kenyataannya WFH (work from home) tidak semanis ucapan content creator.

Klean jangan heran karena daku sudah berpengalaman WFH sejak tahun 2017, jauh sebelum masa pandemi (ketika banyak yang mempraktekkan kerja dari rumah). Walau baru level agen lokal tapi ternyata seru banget. Akan tetapi daku akan menguak sisi gelap dari WFH yang belum banyak diketahui orang awam:

Butuh Modal

WFH ibarat orang berdagang yang butuh modal untuk memulainya. Pertama tentu saja harus ada jaringan internet, lalu HP dan laptop yang memadai. Bahkan ada lho agen yang mensyaratkan pekerja freelance untuk memakai laptop merk tertentu dan keluaran terbaru (biasanya kalau bidangnya IT).


Lalu bagaimana kalau spesifikasi laptop masih pas-pasan? Sebenarnya bisa diakali. Misalnya kalau mau wawancara online tapi kamera laptop sudah burik, pasang saja web cam tambahan. Nanti sebagian pendapatan ditabung dan digunakan untuk membeli gadget yang lebih bagus dan canggih.

Pressure Ketat

Kalau sedang WFH ya sebenarnya sama saja dengan bekerja di kantor pada umumnya alias ada deadline dari atasan. Daku dulu freelance di media online jadi dituntut dalam sehari menulis 2.000-3.000 kata dan harus disetorkan sebelum jam 20:00. Dengan pressure yang ketat maka juga harus tahan mental dan tidak baperan.

Harus Mahir Bahasa Inggris?

Kalau WFH apa harus pintar berbahasa inggris? Bisa iya dan bisa tidak. Jika agennya lokal maka tidak semua mensyaratkan harus mahir English. Akan tetapi kalau kantornya di luar negeri, ada tes-tes bahasa inggris yang harus dilalui (reading, listening, grammar) plus tes logika. Jadi belajarlah dari sekarang, jangan malas ya!

Pengaturan Waktu Kerja

Jika WFH maka harus dilihat dulu persyaratan dari kantornya. Bisa jadi mereka minta freelancers untuk online pada jam yang ditentukan (biasanya 8 jam kerja). Akan tetapi lihat lagi perbedaan jam antara di Indonesia dengan di sana. Pastikan klean bisa bertahan karena bisa jadi harus melek sampai tengah malam.

WFH vs Mengatur Rumah Tangga

Salah satu tantangan WFH pada wanita adalah bagaimana cara menyeimbangkan peran antara jadi freelancer atau jadi IRT? Jangan sampai keasyikan di depan laptop malah lupa belum masak, gawat! Atau anak-anak rewel karena merasa tidak diperhatikan mamanya.

Jadi perlu target dan strategi agar semuanya berjalan dengan lancar. Misalnya untuk memasak bisa langganan katering, atau memasak langsung untuk 3-4 hari dan disimpan di freezer. Nanti saat akan makan baru dipanaskan.

Baju bisa dimasukkan ke laundry atau beli mesin cuci+pengering, jadi sudah langsung bersih, kering, dan tinggal disetrika. Atau yang disetrika seragam saja. Jangan terlalu ingin sempurna tapi malah stress sendiri, kerja di rumah pakai kaos kusut tidak apa-apa, kan? Kalau meeting dengan klien secara online baru ganti baju yang lebih rapi.

Waspada Penipuan

Harus sangat hati-hati jika klean mencari pekerjaan online, jangan sampai terkena scam. Ciri khasnya adalah digiring untuk klik yang nyambung ke aplikasi tertentu. Sedangkan ciri lain adalah pekerjaannya gampang (misalnya mengetik ulang) tapi bayaran tinggi (sampai ribuan dollar).

Pekerjaan Per Proyek

Tidak semua freelancer harus online 8 jam sehari. Akan tetapi ada modelan pekerja per proyek, jadi ya WFH pas dikasih project saja. Kalau klean dapat yang gini ya kudu rajin cari proyek agar dapur tetap ngebul. Atau cari pekerjaan lain, misalnya nulis ebook lalu dijual di platform.

Pesanku untuk newbie freelancer jangan tergoda gaji besar tapi ternyata scam (misalnya harus deposit uang dalam nominal tertentu dulu). Klean juga harus pintar mengelola uang karena bisa jadi yang didapatkan per bulan tidak sama. WFH bisa sangat manis asal tahu caranya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar