Jumat, 10 April 2026

Akankah Aku Berhenti Menulis?

 

Layar itu berpendar selama berpuluh menit. Kosong. Tidak ada satu kata pun, bahkan satu tanda baca, di dalamnya. Sementara tangan masih diam, sorot mata sayu, mata termangu.

Ke Mana Semangat Menulisku?

Mungkin klean yang membacanya akan merasa aneh. Pasalnya blog ini selalu update setidaknya 7-8 kali sebulan. Namun sejak awal tahun 2026 produktivitasku menurun. Bahkan berpikir akankah berhenti menulis dan mencari pekerjaan lain?

Iyaa iyaa ini lagi curhat. Sejak beberapa bulan lalu rasanya emosi tergerus oleh perubahan aktivitas dan konsentrasi yang menumpuk ke keluarga. Kalau dulu Saladin diantar dan dijemput oleh ayahnya (waktu SD), saat ini dia kuantar (karena SMP-nya dekat rumah), dan pulangnya dia jalan sendiri (tapi kadang minta dijemput juga).

Habis antar jemput bocah masih harus beberes, memasak, mencuci, dll. Rasanya sudah capek duluan. Apalagi saat Saladin lagi bad mood dan harus dibujuk (dia ADHD). Rasanya mood jelek jadi menular dan keinginan untuk menulis jadi ambyar.

Dibayar Atau Tidak?

FYI, dulu daku produktif sekali dalam menulis. Tahun 2017-2023, tiap hari menulis setidaknya 2.000 kata. Bahkan libur lebaran hanya 2 hari, habis itu gas kerja lagi. Penyebabnya karena aku memang work from home di salah satu agensi kepenulisan, dan artikelnya nampang di salah satu koran online.

Akan tetapi, akhir tahun 2023 kontrak diputus secara sepihak. Habis itu kelimpungan karena belum ada pekerjaan tetap lagi. Kalaupun ada juga kepentok usia (35+).

Akhirnya aku balik ngeblog lagi tapi belakangan lelah karena fokus terpecah dan sempat kepikrian, ngapain sih nulis di blog pribadi tapi belum ada bayarannya? Lagipula job juga tidak sesering dulu. This is sad but true.

Lantas mikir, sebenarnya menulis ini hobi atau pekerjaan? Jika aku menganggapnya sebagai hobi maka lakukan saja. Namanya juga hobi, jadi happy saja.

Akan tetapi jika switch dari hobi ke pekerjaan maka ada perubahan. Tak selamanya kutuliskan topik yang kusuka. Kadang harus riset dulu dan baca artikel-artikel sumber yang njelimet. Dibayar memang tapi lebih banyak sukanya daripada dukanya.

Konsekuensinya, aku jadi money oriented dan merasa semua tulisanku harus dibayar. Padahal tidak semua artikel harus dimonetasi, bukan? Lagipula tujuan ngeblog juga bermacam-macam, selain untuk menyimpan memori juga untuk portofolio online.

Menulis Ebook

Karena merasa mentok ngeblog akhirnya aku memutuskan untuk menulis ebook. Namun membuat buku elektronik tak semudah bikin artikel. Pertama, tulisannya tentu jauh lebih banyak. Kedua, harus bisa bikin sampul dan layout ebook sendiri (biar hemat), jadi otodidak belajarnya.

Menulis ebook juga harus diiringi dengan promosi. Jadi seorang content creator yang menjual buku elektronik, wajib belajar ilmu marketing. Promosi di mana-mana, tentu dengan cara yang halus (bukan hard selling apalagi memaksa).

Pada Akhirnya

Pada akhirnya aku memutuskan untuk terus menulis, baik di blog maupun bikin ebook. Daku akan tetap menulis baik dibayar maupun tidak dibayar. Sebenarnya uang menjadi memusingkan karena ketika ditarget untuk monetasi, yang ada hanya writer’s block.

Tahukah klean? Salah satu motivasi untuk menulis lagi adalah sohibku yang tinggal di lain provinsi. Kala itu dia minta ide menu bekal untuk anaknya. Daku kebetulan punya draft ebook berisi daftar menu bekal, dan langsung kuketik ulang dan kukirim via email.

Setelah itu daku mikir lagi, ternyata menulis untuk menolong orang lain menyenangkan juga. Jadiii untuk mencari uang sebagai tujuan menulis memang bagus. Namun alangkah baiknya mindset-ku diperbaiki dulu. Menulis untuk membantu memecahkan masalah orang lain, untuk menghibur netizen, dll. Membuat karya yang bagus dan berguna, yakinlah nanti uangnya datang sendiri.

Akankah klean lanjut menulis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar