Senin, 06 April 2026

Akankah Kita Mengasuh Anak Berdasarkan Ketakutan?

 

Belakangan daku nonton banyak video di sosmed, tentang mendiang Michael Jackson. Jacko the king of pop begitu lekat di hati para penggemarnya. Akan tetapi dia memiliki masa kecil yang kelam karena sang ayah, Joe Jackson, mendidik dengan kekerasan dan hukuman fisik.



Setelah menonton maka daku mendapatkan fakta lain. Joe Jackson begitu keras karena dia memiliki trauma pada masa perang. Di mana dulu keluarganya berada dalam keadaan tak punya. Kemiskinan benar-benar menjadi momok yang mengerikan. Oleh karena itu dia berusaha agar Michael dan anggota Jackson 5 lain berlatih keras agar menjadi bintang televisi nomor satu.

Trauma Orang Tua

Cerita tentang Joe dan Michael Jackson membuatku berpikir, apakah ada orang tua lain yang bersikap keras karena faktor trauma? Mereka takut terjerumus dalam kefakiran sehingga menuntut anak untuk berprestasi dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi.

Kemiskinan menjadi biang keladi untuk membuat seseorang berubah menjadi lebih baik. Akan tetapi, ketakutan akan kekurangan uang sebenarnya tidak terlalu baik. Dengan bermodal ketakutan tersebut maka anak justru merasa terbebani.

Michael pernah merasa sedih karena dulu dilatih terlalu keras oleh sang ayah sehingga dia tidak punya masa kecil yang indah. Meski sudah berdamai, tapi tentu ada rasa untuk menjaga jarak. Semua ini gara-gara satu kata bernama ‘ketakutan’.

Mental Block

Ada juga orang tua yang takut saat anaknya bermimpi tinggi. Misalnya saat si anak berimajinasi ingin traveling ke luar negeri, langsung dipatahkan dengan ucapan, “jangan, itu mahal!” Padahal kan bisa dicari caranya, misalnya cari sponsor, endorse, atau beasiswa.

Mental block bisa membuat anak trauma bahkan bertahun-tahun lamanya. Dia jadi tidak percaya diri dan takut untuk berubah menjadi lebih baik. Betapa kejamnya orang tua yang menanamkan tembok tinggi bernama mental block pada pikiran sang anak, yang bisa membuatnya jauh dari kesuksesan.

Scarcity Mindset

Kemudian, ada tipe orang tua yang takut saat melihat harga. Misalnya minuman seharga 5.000 dibilang mahal (karena biasa beli yang harga 3.000 rupiah saja). Padahal kondisi keuangannya menengah, masih bisa lah beli itu tanpa mikir besok harus makan apa.

Daku baru paham kalau ini yang dinamakan scarcity mindset. Di mana seseorang pernah menjadi orang yang tidak punya, lalu saat kehidupan membaik dia masih merasa takut miskin. Lantas harga-harga dianggap mahal. Padahal mahal dan murah itu relatif dan anak-anak wajib memahaminya, agar mereka punya mental orang kaya.

Mengapa Harus Takut?

Memang orang tua ingin agar anak menjadi lebih baik darinya. Tapi apakah mereka harus menggunakan rasa takut sebagai motivasi agar memiliki hidup yang lebih baik? Bukankah seharusnya motivasi itu berasal dari hal yang baik? Bukan dari perasaan negatif?

Ingatlah bahwa anak sebenarnya bisa merasakan hal yang dirasakan juga oleh orang tua. Ketika orang tua takut kekurangan, takut barang mahal, bisa diduplikasi oleh anak. Padahal ini berbahaya karena bisa merasuk ke alam bawah sadar dan mempengaruhi masa depannya.

Solusinya Adalah

Jadi bagaimana solusinya? Daku menyarankan agar para orang tua dan anak-anaknya berbicara dari hati ke hati (dan menatap mata secara langsung, tanpa gangguan dari gadget apapun). Dengan cara ini anak akan paham bagaimana masa lalu orang tua yang kurang manis, sehingga bersikap begini.

Selain itu, orang tua wajib melakukan konseling (malah lebih baik lagi kalau sebelum menikah melakukan trauma release dulu). Jadi dengan mental yang lebih sehat, bunda dan ayah akan menanamkan berbagai hal positif ke anak. Bukannya malah menjegal potensi mereka dengan menanamkan mental block yang berbahaya.

Jika anak diasuh dengan ketakutan, mental block, dan scarcity mindset maka dia bisa merasakan hal tersebut. Janganlah kita merusak masa depan anak dengan menanamkan pemikiran yang salah. Jika ada dinamika hidup, jangan merasa takdir ini kejam, karena manusia bisa berubah jadi lebih baik dengan perjuangan, doa, dan mindset yang positif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar