Belakangan daku nonton
banyak video di sosmed, tentang mendiang Michael Jackson. Jacko the king of pop begitu lekat di hati
para penggemarnya. Akan tetapi dia memiliki masa kecil yang kelam karena sang
ayah, Joe Jackson, mendidik dengan kekerasan dan hukuman fisik.
Setelah menonton maka
daku mendapatkan fakta lain. Joe Jackson begitu keras karena dia memiliki
trauma pada masa perang. Di mana dulu keluarganya berada dalam keadaan tak
punya. Kemiskinan benar-benar menjadi momok yang mengerikan. Oleh karena itu
dia berusaha agar Michael dan anggota Jackson 5 lain berlatih keras agar
menjadi bintang televisi nomor satu.
Trauma Orang Tua
Cerita tentang Joe dan
Michael Jackson membuatku berpikir, apakah ada orang tua lain yang bersikap
keras karena faktor trauma? Mereka takut terjerumus dalam kefakiran sehingga
menuntut anak untuk berprestasi dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi.
Kemiskinan menjadi
biang keladi untuk membuat seseorang berubah menjadi lebih baik. Akan tetapi,
ketakutan akan kekurangan uang sebenarnya tidak terlalu baik. Dengan bermodal
ketakutan tersebut maka anak justru merasa terbebani.
Michael pernah merasa
sedih karena dulu dilatih terlalu keras oleh sang ayah sehingga dia tidak punya
masa kecil yang indah. Meski sudah berdamai, tapi tentu ada rasa untuk menjaga
jarak. Semua ini gara-gara satu kata bernama ‘ketakutan’.
Mental
Block
Ada juga orang tua yang
takut saat anaknya bermimpi tinggi. Misalnya saat si anak berimajinasi ingin traveling ke luar negeri, langsung
dipatahkan dengan ucapan, “jangan, itu mahal!” Padahal kan bisa dicari caranya,
misalnya cari sponsor, endorse, atau beasiswa.
Mental block bisa
membuat anak trauma bahkan bertahun-tahun lamanya. Dia jadi tidak percaya diri
dan takut untuk berubah menjadi lebih baik. Betapa kejamnya orang tua yang
menanamkan tembok tinggi bernama mental block pada pikiran sang anak, yang bisa
membuatnya jauh dari kesuksesan.
Scarcity Mindset
Kemudian, ada tipe
orang tua yang takut saat melihat harga. Misalnya minuman seharga 5.000
dibilang mahal (karena biasa beli yang harga 3.000 rupiah saja). Padahal
kondisi keuangannya menengah, masih bisa lah beli itu tanpa mikir besok harus
makan apa.
Daku baru paham kalau
ini yang dinamakan scarcity mindset.
Di mana seseorang pernah menjadi orang yang tidak punya, lalu saat kehidupan
membaik dia masih merasa takut miskin. Lantas harga-harga dianggap mahal.
Padahal mahal dan murah itu relatif dan anak-anak wajib memahaminya, agar
mereka punya mental orang kaya.
Mengapa
Harus Takut?
Memang orang tua ingin
agar anak menjadi lebih baik darinya. Tapi apakah mereka harus menggunakan rasa
takut sebagai motivasi agar memiliki hidup yang lebih baik? Bukankah seharusnya
motivasi itu berasal dari hal yang baik? Bukan dari perasaan negatif?
Ingatlah bahwa anak
sebenarnya bisa merasakan hal yang dirasakan juga oleh orang tua. Ketika orang
tua takut kekurangan, takut barang mahal, bisa diduplikasi oleh anak. Padahal
ini berbahaya karena bisa merasuk ke alam bawah sadar dan mempengaruhi masa
depannya.
Solusinya
Adalah
Jadi bagaimana
solusinya? Daku menyarankan agar para orang tua dan anak-anaknya berbicara dari
hati ke hati (dan menatap mata secara langsung, tanpa gangguan dari gadget apapun). Dengan cara ini anak
akan paham bagaimana masa lalu orang tua yang kurang manis, sehingga bersikap
begini.
Selain itu, orang tua
wajib melakukan konseling (malah lebih baik lagi kalau sebelum menikah
melakukan trauma release dulu). Jadi
dengan mental yang lebih sehat, bunda dan ayah akan menanamkan berbagai hal
positif ke anak. Bukannya malah menjegal potensi mereka dengan menanamkan mental block yang berbahaya.
Jika anak diasuh dengan
ketakutan, mental block, dan scarcity mindset maka dia bisa merasakan
hal tersebut. Janganlah kita merusak masa depan anak dengan menanamkan
pemikiran yang salah. Jika ada dinamika hidup, jangan merasa takdir ini kejam,
karena manusia bisa berubah jadi lebih baik dengan perjuangan, doa, dan mindset yang positif.



Terima kasih sharingnya, mba.. Memang betul harus benar2 hati2 dlm memilih dan menetapkan parenting pd anak2 kita agar hasilnya sesuai harapan ya.
BalasHapusdari beberapa sumber yang aku baca, kondisi kita di masa kecil atau inner child itu memang cukup berpengaruh pada pola pengasuhan atau kebiasaan belanja di masa dewasa. Kayak misal ada yang masa kecilnya nggak bisa beli sepatu dan ketika dewasa dan punya uang maka ia kadang jadi membeli banyak sekali sepatu. Begitu pula pengasuhan kadang tanpa disadari kita juga mewariskan pola pengasuhan dari orang tua kepada anak kita
BalasHapusSetelah dipikir-pikir, aku beruntung ya gak pernah ngerasain mental block. Dulu kalau bercerita ke ortu ingin jadi ini dan itu, mereka akan semangat bilang, "amiin, bisa banget blablabla" tapi, hidup masa kecilku juga nggak sempurna. Pernah terdampak pembullyan juga (yang dilakukan oleh sepupu-sepupu yang tinggal di rumah) yang bikin aku benci ke diri sendiri, ngerasa jelek, nggak berharga dsb. Proses "sembuh"nya jelas gak mudah. Atau bahkan sisa-sisa traumanya masih ada. Tapi aku setuju akan kesadaran ortu zaman sekarang, terkait parenting terutama bahwa mengasuh anak dalam bayang-bayang ketakutan/ancaman itu nggak buanget!
BalasHapusCara orang tua memberikan pengertian kepada anaknya memang menjadi kunci dari segalanya, orang tua harus tau kemana dan faham apa yang di inginkan anaknya, ketika dirasa ada yang kurang cocok maka betul solusinya dalah menjalin komunikasi dari hati ke hati.
BalasHapusItulah mengapa baiknya kita sebagai orang tua itu baiknya berperan jadi 'pemutus mata rantai', bukan malah mengambil tongkat estafetnya. Jadi apapun hal buruk yang dialami saat kecil, kita coba hindari ke Anak kita, agar kelak anak kita tak mengalami hal buruk yang kita rasakan.
BalasHapusMeskipun tentunya, hal itu pasti gak mudah yaa. Tapi minimal kita mengenali diri sendiri, supaya bisa men-treat anak dengan baik.
Nah setuju. Aku pun dulu didikannya ala militer banget. Jujur ini bikin aku ga Deket Ama ortu. Makanya aku milih sekolah jauh pas aku kls 3, lalu pas selesai kuliah pun aku milih LGS JKT. Pokoknya ga mau Deket ortu, Krn udh capek berantem.
BalasHapusTp pas punya anak, aku ga mau KSH didikan yg sama. Aku keras, tp selalu jelasin kenapa aku mendidik mereka begitu, beda Ama ortu, yg melarang, tp ga ngasih tahu kenapa nya.
Apalagi soal scarsity mindset, duuuuh ga deh. Justru anak2 hrs dimotivasi... Diajak utk mau bermimpi tinggi, supaya mereka ada semangat utk mengejar yg diidam2kan. Kunci semuanya memang balik lagi ke komunikasi ya mba.
Scarcity Mindset ini nggak baik ternyata ya 😅
BalasHapusKayanya sadar nggak sadar aku pernah melakukan itu. Misal anak ingin beli sesuatu yang menurutku mahal, ya aku bilang mahal. Suruh pilih yang lainnya aja. Jajan yang mahal pun juga aku batasi. Boleh sesekali tapi nggak boleh sering-sering. Ya mahal murah memang relatif sih ya.
Harusnya nggak boleh ya kita bilang sebuah barang mahal? Atau gimana sih masih kurang paham yang bagian itu 😆
Parenting dengan sistem memberikan ketakutan, gak bagus juga ya. Ketegasan boleh, boleh aja, tapi tentunya dengan mempertimbangkan banyak hal juga. Terlebih untuk memotivasi anak, agar istilahnya bisa lebih baik dari orangtuanya. Jadinya orangtua perlu pintar² ya tatkala kasih pemahaman kepada anaknya
BalasHapusaku jadi ingat nih dulu itu aku kalau ngajak anak ke mall gitu kadang suka kumarahin kalau mau makan yang mahal karena ya memang mahal harganya. tapi kalau sekarang aku berusaha ikhlas aja karena nggak mau dibilang bermental miskin dan berdoa dari uang yang kukeluarkan buat anak-anak bisa kembali lagi lebih banyak. tapi ya tetap sih kalau ke mall itu dibatasi frekuensinya biar nggak boncos-boncos amat
BalasHapusMakasih Mbak sharingnya jadi pengingat untuk para orang tua yang lagi membersamai tumbuh kembang anak-anaknya. Meskipun kadang saya masih keras dalam mendidik anak, tapi tetep berusaha untuk jadi tempat yang nyaman dan aman buat mereka bercerita. Selain itu, kalaupun didikannya agak-agak VOC, anak tau alasannya, nggak cuma sepik-sepik aja tapi anak nggak paham gimana maksudnya.
BalasHapusAku salah satu yang ketakutan waktu tau bakal punya anak. Takut gak bisa didik dengan baik dan takut gak bisa memutus mata rantai didikan gak enak jaman diasuh orang tua. Tapi, alhamdulillah bisa menyeimbangkan kapan jadi jenderal VOC dan kapan jadi mama2 berjiwa Nikita Willy. Terpenting adalah jadi orang tua yang mau belajar, mau mendengar dan mau memahami cara anak memandang. Buat saya, parenting adalah seni kehidupan yang gak putus2 buat dipelajari.
BalasHapusTerima kasih atas sharing dan pengingatnya, Bun...
Aku termasuk anak yang tumbuh dalam kondisi ekonomi sering carut-marut Mbak Avi. Ortu terutama Bapak memang mendidik ketiga anaknya dengan keras. Beliau itu trauma dan nggak mau anak-anaknya susah, jadi lumayan di tuntut harus berprestasi atau beneran mandiri banget.
BalasHapusAku sih sebagai anak, dulu marah ya karena Bapakku keras. Tetapi, seiring berjalannya waktu, aku bersyukur dan memaafkan beliau. Supaya trauma itu putus di aku. Kalau kelak aku ada rezeki dan anugerah di kasih anak, atau punya anak, bisa lebih mendidik dengan benar dan tepat sesuai kondisi zaman. Mendidik anak dengan ketakutan seperti ayahnya Michael Jakson tentu bukan suatu cara yang baik, tetapi beberapa posisi terutama orang di garis kemiskinan emang rawan di dera begitu. Itu faktanya.
Ada juga orang tua yang mendidik anaknya karena ambisinya yang keingiannya yang tak kesampaian. Anak dipush untuk terus mencapainya. Padahal anak belum tentu suka dan mau. akhirnya anak jadi tertekan. Tapi kebanyakan orang tua mendidik anak dengan membandingkan dengan zamannya dulu. Aah.. dulu zaman bapak, tidak ada anak blablabla.. mereka lupa kalau anak hidup di zaman yang berbeda.
BalasHapusMembaca kisah Joe Jackson memang jadi pengingat betapa "warisan" trauma bisa tanpa sadar kita turunkan ke anak. Kadang niatnya baik—ingin anak hidup lebih layak—tapi kalau akarnya dari ketakutan atau scarcity mindset, anak justru tumbuh dalam tekanan, bukan motivasi yang sehat.
BalasHapusKetakutan adalah rasa yang wajar dialami oleh manusia tapi Apabila kasus seperti ini otomatis harus ada konsultasi dari orang-orang yang memiliki kompetensi untuk hal ini untuk memperbaiki situasi kejiwaan dan memang kisah Michael Jackson ini bisa jadi contoh buat banyak keluarga supaya tidak terjadi lagi dalam kehidupan keluarga-keluarga lainnya
BalasHapusEh, tapi kek bertolak belakang nggak sih mbak, Bapaknya Michael nggak ngeblok potensi anaknya?
BalasHapusBapaknya Michael emang keras tetepi dia malah mendorong anaknya maju, bukan menghambat? Apa aku yang keliru menangkap ya? Jadi kyk ngepush anak2nya keluar dari kemiskinan, walau caranya juga nggak bisa dibilang benar.
Tapi memang sih kadang kemiskinan bikin orang nggak optimis, saat anaknya mau maju, misal mau sekolah, banyak kasus ortunya malah nyuruh berhenti aja buat bantuin dagang,misalnya.
Kalau scarcity mindset mungkin terjadi karena trauma takut kismin lagi kali yaa. Tapi zaman now malah orang yang udah naik level jadi kek banyak yang flexang-flexing hehe.
Yaaa intinya emang kalau jadi ortu jangan melampiaskan ke anak ya, apapun itu kudu bebas dari luka masa lalu dulu biar energi negatif2 nggak nular ke anak hiks.
Awla hamil, saya takut mbak
BalasHapusTakut ga bisa membesarkan dengan baik
Takut kesalahan orang tua dalam mendidik saya juga ikut menurun
Dan sekarang punya anak tiga tuh rasanya bener bener bikin saya belajar banyak hal baru
Bahkan hal yang aku ingin hindari saat remaja dulu justru sekarang aku harus jalani dengan sabar
Iya didikan zaman dulu tuh orang tua keras dan galak ya untuk mendisiplinkan anak-anak padahal bisa membuat anak terluka batinnya.. sedih baca biografi Michael Jackson tuh.. mereka korban ortu yang ambisius
BalasHapusBaby boomers emg dasarnya ngedidik anak kayak gt yak. Keras semua. Tapi anaknya pada jadi smua, penurut dan sukses smua. Rata2 ya. Mereka emg pny ketakutan, jgn sampe anaknya kelak masih miskin kayak dia dulu. Mknya didikannya keras, ditempa dgn mental baja biar tahan banting saat dewasa.
BalasHapusAku jg gt sih ngedidik anak gen Alpha. Ga bs dilembutin anak skrg mah. Takut ntr mentalnya jd kyk tahu, letoy. Biarkan aku mendidik dgn agak militer tapi tetap komunikasi hrs jalan trs. Emg sih ngedidik anak hrs sesuai masanya. Tapi minimal hrs ada standar pendidikan anak yg wajib kita kasih.
Tulisan ini sangat membuka mata bahwa pola asuh orang tua sering kali dipengaruhi oleh luka dan ketakutan masa lalu yang belum selesai. Saya jadi sadar bahwa niat baik orang tua untuk melindungi anak kadang tanpa sadar berubah menjadi tekanan, mental block, bahkan menanamkan scarcity mindset pada anak. Bagian tentang bagaimana ucapan sederhana bisa mematahkan mimpi anak benar-benar ngena dan bikin refleksi diri. Setuju sekali bahwa komunikasi dari hati ke hati dan penyembuhan trauma orang tua itu penting agar anak tumbuh dengan rasa percaya diri, bukan dengan rasa takut. Dan kami pun menerapkan ini ke anak-anak, dengan melibatkan mereka dalam setiap keputusan yang diambil jika itu berkaitan dengan masa depan mereka. Termasuk Ketika sulung minta masuk pondok sejak ganti seragam biru putih, agak berat tapi berusaha legowo. Karena kami ingin memutrus rantai luka pengasuhan cukup di kami saja ayah dan ibunya, anak-anak harus lebih happy dibandingkan masa kecil kami.
BalasHapusHealing terbaik memang belajar agama, IMHO.
BalasHapusKarena di sana banyak sekali hikmah dan pelajaran hak dan kewajiban ketika menjadi anak ataupun orangtua.
Sejujurnyaa..
Gak ada manusia yang gak terluka.
Hanya saja memang perspektif ini mewarnai.
Apalagi ketika jauh dari agama.. banyak banget bisikan syaithan yang mewarnai... dari kata "Andaikan" aja.. bisa terbuka banyaakk sekali celah untuk menyalahkan masa lalu, terutama orangtua.
Jadi kalo untuk trauma, aku rasa orangtua mendidik sesuai zamannya yaa..
Aku kadang juga sedih kalo melihat parenting jaman dulu.. tapii, kalo melihat parenting jaman sekarang juga kadang bikin istighfar..
Memang semuanya adalah sebuah proses yaa..
kalau kita bisa menerapkan parenting di sini, belum tentu berlaku di keluarga lain.
Iya, jangan mengasuh anak pakai ketakutan
BalasHapusYang ada itu meneror bukan mengasuh ya mbak
Saya memilih untuk tidak takut mbak kalau serba takut malah ga bagus hasilnya dan rasa itu nular lo ke anak, jadi ga bisa dekat dengan anak. Setiap orang sebetulnya mempunyai fitrah sebagai ortu tinggal mengoptimalkannya dan saya memilih untuk melibatkan Allah, bagaimanaoun juga lebih ayem kalau diserahkan pada-Nya
BalasHapusIMHO