Penulis
have? Apa pula ituu? Daku juga baru tahu dari sosmed. Jadii ada istilah anak
gen Z, kalau have itu maksudnye orkay alias orang kaya. Sementara kalau haven’t
kebalikannya.
Ada
satu content creator yang bikin
postingan tentang penulis have. Katanya mereka itu kalau riset setting tempat novel langsung datang /
terbang ke tempat tersebut. Mengetiknya di kafe yang mahal dan memakai laptop
yang harganya selangit. Untuk promosi juga ada timnya sendiri.
Sementara,
penulis haven’t itu risetnya cukup pakai AI. Menulis juga di atas kasur, dan
menggunakan gadget seadanya. Mereka
juga berpromosi sendiri dan berjuang untuk mendapatkan pembaca (karena berkarya
di platform novel).
What
About Me?
Spontan daku terusik dan
berkomentar: entah masuk golongan mana. Yang jelas selama ini menulisnya di
rumah saja (atau di rumah mama). Karena memang jarang nulis di kafe atau
perpustakaan.
Saat menulis juga berteman air
mineral atau kopi sachetan (yang dibeli di warung tetangga). Riset via buku,
jurnal, atau mbah Google. Menulisnya juga pakai laptop yang usianya sudah
lumayan. Tapi kenyataannya dengan keadaan seperti ini, daku sudah mendapatkan
uang (karena menulisnya untuk agency).
Apakah
Harus Pakai Gadget Mahal?
Dulu, ada seorang penulis senior
yang pernah berkata kalau seseorang mau jadi penulis tapi syaratnya harus pakai
laptop bagus, harus ini dan itu, maka sama saja seperti berenang di kolam air
hangat. Daku termangu dan teringat nasehat beliau. Apakah jadi penulis harus
pakai laptop puluhan juta?
Daku juga teringat lagi akan jawaban
dari kakak online yang profesinya
penjual laptop. Menurut beliau, gadget terbaik
bukanlah yang paling mahal (alias yang seharga mobil). Melainkan gadget yang paling cocok dengan kondisi
/ pekerjaan pemakainya.
Dipikir-pikir benar juga. Kalau
misalnya daku butuh buat menulis dan editing
foto / konten sederhana, tidak usah pakai laptop spek gamer yang mihil.
Menjual
Skill
Lagipula
menulis juga tidak harus selalu pakai laptop kan ya? Ada salah satu friend efbe yang menulis naskah novel
memakai HP android spek ‘kentang’ dan berhasil diterbitkan. Sementara daku
pernah nulis pakai buku tulis karena HP error dan laptop dipakai Saladin untuk
belajar (karena dia semi-homeschooling).
Daku berpesan untuk semua kawanku
yang ingin jadi penulis, jangan tersekat oleh anggapan penulis have atau
haven’t. Bahkan sekelas JK Rowling dulu pernah menulis di atas tisu, saat
beliau masih merintis karir sebagai penulis buku. Bukankah yang penting adalah skill menulis, bukan alat atau
hartanya?
Penulis juga butuh ketekunan, jangan
hanya menulis sehari lalu besok dan lusanya mager. Bayangkan kalau klean bisa
menulis seribu kata sehari, maka dalam 2 bulan akan menghasilkan novel
sepanjang 60.000 kata. Banyak, kaan?
Selain itu, salah satu ‘senjata’
saat menulis adalah tekad kuat.
Jangan gampang mutung. Ditolak penerbit sekali langsung nangis tujuh bulan.
Dikomentari negative oleh pembaca langsung ngambek dan tidak mau menulis untuk
selamanya. Apakah kamu bermental tempe?
Akhir kata, jadikan menulis sebagai kegiatan
yang positif, bermanfaat, dan menyenangkan.
Jadi nulisnya tidak usah terbebani dan mengalir saja, tentu disertai dengan
kegiatan seperti membaca buku dan riset ke library.
Kecuali kalau memang klean jadi penulis dengan deadline ketat (hanya hitungan per jam) dan ini butuh mental yang
1.000 kali lebih kuat.
Klean
sudah menulis apa saja hari ini?



hahaha aku juga baru nemu kata itu, orang have
BalasHapus