Belakangan ada banyak AI dan kegunaannya juga beragam. Tidak hanya untuk browsing tapi juga untuk curhat! Beneran kaget karena ternyata ada banyak netizen yang memilih untuk tak Cuma sekadar ngobrol, tapi mencurahkan perasaan ke AI.
Mengapa banyak yang akhirnya curhat ke AI? Alasan netizen adalah murah jika dibandingkan harus ke psikolog atau psikiater. Tinggal chat di HP atau laptop, bisa dapat solusi dan pandangan baru dari AI
Validasi Perasaan
Lantas bolehkah manusia terus-menerus mencurahkan isi hatinya ke AI? Sebenarnya ini tidak terlalu bagus karena ada AI yang didesain untuk memvalidasi perasaan penggunanya. Jadi jika ia curhat maka dijawab sesuai dengan keinginannya. Malah tak baik karena jarang bisa menyelesaikan masalah.
Muncul Batasan
Salah satu AI memberi peringatan kepada netizen. Muncul tulisan ‘anda menggunakan AI ini selama lebih dari 45 menit’. Bahkan dari pihak pembuat dan pengembang AI sendiri menerapkan batasan durasi mengobrol. Tujuannya agar netizen tidak keterusan curhat sampai berjam-jam.
Apakah Curhat ke AI Berbahaya?
Klean merasa curhat ke AI itu berbahaya? Selain memvalidasi perasaan netizen, terlalu lama menatap layar gadget juga tidak bagus (untuk kesehatan mata). Jadi saranku jangan terlalu sering lah, nanti malah kecanduan.
Ingatlah bahwa AI bukan manusia. Mereka hanya mesin yang tidak punya real soul. Daku pernah tanya ke AI dan yang dihasilkan adalah rangkuman jawaban dari beberapa website terkenal. Tapi bisa jadi jawaban tersebut tidak valid karena sekali lagi mereka bukanlah makhluk hidup.
Daku sendiri menggunakan AI untuk ngobrol iseng, bukan untuk curhat yang serius. Cuma nyebelinnya kadang si AI tidak mengerti apa bercandaan yang kusampaikan. Namanya juga mesin!
Jangan sampai klean keasyikan mengetik dan bercakap-cakap dengan AI, tapi lupa akan realitas di dunia nyata. Itu namanya pelarian dan tidak bagus, ya! Jika memang hampir mencapai ketidakwarasan padaku, lebih baik melepas penat sekejap dengan traveling atau kegiatan lain yang mengasyikkan.
Jadi, kalau klean punya masalah berat, lebih baik cari psikolog, konselor, atau psikiater. Ada beberapa psikolog muda (baru lulus) yang memasang tariff tidak terlalu mahal, jadi bisa coba untuk konsultasi ke dia. Sekali lagi daku bilang, AI hanya mesin, bukan tempat curhat yang akurat.
Hmm.. AI buat saya masih lebih ke brainstorming dan nyari solusi secara teknis. Wkwk. Kalau curhat, butuh teman ngobrol soal kehidupan, alhamdulillah saya masih punya circle manusia sebagai tempat curhat jadi belum pernah sampai curhat ke AI.
BalasHapusApa mungkin yang suka curhat ke AI itu orang-orang yang cenderung introvert dan nggak nyaman cerita sama orang lain?
aku pakai AI buat curhat tentang akun igku, biasanya aku minta dia analisis konten-konten yang sudah kubuat dan juga menganalisa isi akunku termasuk minta tips biar makin berttumbuh
BalasHapusSeintrovert-introvertnya aku... Aku belum pernah curhat ke AI, seringnya AI membantu sebagai shortcut google, mencari pertanyaan yang butuh jawaban cepat. Membantu brainstorming saat membuat artikel, membantu membuatkan gambar, dll. Bahkan untuk analisa life path, human design, feshui, dsb lebih akurat bertanya pada manusia yang lebih pakar. Untuk saat ini. Kalau curhat ke AI, yang ada dia cuma jadi people pleasure. Dia hanya mematuhi apa yang ingin kita dengar.
BalasHapusAku juga belakangan suka curhat sama ai tapi untuk hal-hal simple sih kayak urusan kerjaan dan juga blog. Ternyata cukup membantu sih si AI ini heu
BalasHapus