Judul
Asli : The Naughtiest Girl in the
School
Penulis : Enid Blyton
Penerjemah : Djokolelono
Tahun : 1983
Penerbit : Gramedia
Enid Blyton memang terkenal akan series Lima Sekawan. Tapi series Si Badung juga enggak kalah bagusnya. Seperti biasa, setting di Inggris, di masa jauh sebelum
ada internet. Bagaimana ceritanya?
Alkisah ada gadis cantik bernama
Elizabeth Allen. Dia anak tunggal dan berasal dari keluarga kaya. Elizabeth sangat
bahagia karena punya kuda dan berbagai hewan peliharaan lain.
Akan tetapi orang tuanya punya
pemikiran lain. Mereka ingin Elizabeth punya banyak teman sebaya. Selama ini
dia homeschooling dan mendatangkan
guru ke rumah. Jadi agar Elizabeth bisa bergaul, dia harus pergi ke sekolah
berasrama bernama Whyteleafe.
Elizabeth tentu shock berat karena dia belum pernah jauh dari orang tuanya. Tapi keputusan
sudah bulat. Ayah dan Ibu Elizabeth akan bepergian selama setahun penuh. Nona Scott,
guru privatnya, akan pindah mengajar di keluarga lain. Jadi mau tidak mau dia
harus pergi ke sekolah berasrama tersebut.
Si
Badung Membuat Ulah
Baru di kereta api, Elizabeth sudah
membuat ulah dan menyombongkan diri di depan teman-teman barunya. Ketika sudah
di asrama dia memberontak dan tidak mau menuruti perintah ketua murid (perfek).
Kelakuannya membuat heboh karena selama ini di Whyteleafe belum pernah ada
cewek sebadung itu.
Ketika di kelas, Elizabeth melempar
penghapus dengan cara melontarkannya memakai penggaris. Dia juga sengaja
melanggar banyak peraturan, misalnya tidak memakai stoking dan berjalan-jalan
ke desa sendirian (padahal harusnya berdua). Bahkan murid cowok pun ditantang
dan dimarahi.
Mengapa
Elizabeth sengaja berbuat onar? Dia memang bertekad jadi gadis paling badung (naughty) karena homesick.
Pikirnya, ketika selalu jadi anak yang melanggar peraturan, maka pihak sekolah
akan menyerah dan memulangkannya kembali.
Pulang
atau Bertahan?
Akan tetapi Elizabeth lama-lama
merasa betah di Whyteleafe. Dia paling suka pelajaran music dan memainkan
piano. Elizabeth juga lama-lama punya teman seperti Joan yang pendiam. Jadi,
mau kabur, berbuat onar, atau bertahan di sekolah? Baca sendiri yuk!
Apa
Beda Nakal dan Badung?
Awalnya daku penasaran, mengapa Pak
Djokolelono sebagai translator menerjemahkan
‘naughty’ tidak sebagai nakal tetapi badung? Lantas bertanya ke mbah Google dan
ternyata ada perbedaan antara nakal dan badung. Kalau badung itu cenderung ke
nakal karena anaknya keras kepala dan susah diatur.
Berarti diksi ‘badung’ yang
digunakan sudah pas sekali karena karakter Elizabeth Allen sebagai tokoh utama
di buku ini, adalah anak perempuan yang kuat pendiriannya. Saking kuatnya, ibu,
ayah, dan guru privat Elizabeth sampai menyerah. Lantas sang ibu mengirimkannya
ke sekolah berasrama.
Read: Review Buku Lima Sekawan: Rahasia di Pulau Kirrin
Kesimpulannya? Buku Si Badung sangat
menarik karena Elizabeth tidak benar-benar ingin jadi cewek badung. Dia hanya
mencari perhatian dan menemukan cara agar kembali pulang, karena kangen
rumahnya. Jadi kalau ada anak yang nakal jangan dimarahi habis-habisan, tapi
temukan dulu akar masalahnya.




Saya pernah merasakan di posisi itu. Waktu SD, ortu pindah, saya malah tetap di kota asal sendiri. Dua tahun sampai lulus baru pindah ikut ortu
BalasHapusTapi untunglah saya gak cari perhatian apalagi Badung. Kalau tomboy sih iya. Haha...
Ini buku Enid Blyton juga salah satu koleksi saya waktu SD. Iya saya memilih menyibukkan diri dengan membaca dan menulis waktu terpisah dari ortu itu. Alhamdulillah hasilnya banyak terasa manfaatnya
Awalnya saya juga penasaran kenapa diksi 'Badung; yang dipilih untuk versi terjemahan Indonesia dari buku Enid Blyton ini, ternyata terjawab sudah di akhir-akhir paragraf :)
BalasHapusSebagai pengajar di sekolah, cukup sering menemukan kasus anak-anak yang tak sesuai dengan norma dan aturan di sekolah. Dan rata-rata setelah diajak komunikasi secara intens, memang rata-rata mereka sedang mencari perhatian, karena di rumah mereka tak mendapatkannya secara proper, makanya jadi bahan pembelajaran juga tentang betapa penting guru memposisikan sebagai orang tua selama murid ada di lingkungan sekolah
Wah jadi kangen masa-masa baca novel Enid Blyton, he...he... (Kebetulan punya beberapa karyanya termasuk buku ini). Elizabeth Allen ini emang ngeselin tapi gemesin di awal. Trik dia lempar penghapus pakai penggaris itu khas anak-anak banget ya, caper biar dipulangin tapi ujung-ujungnya malah nemu teman baik kayak Joan.
BalasHapusSetuju banget sama penutupnya, seringnya orang dewasa cuma lihat "ulahnya" tanpa mau tahu kenapa anaknya bisa sebadung itu. Setelah baca review ini saya jadi merasa punya kewajiban untuk mencari keberadaan buku koleksi RBCI karena samaopai sekarang bukunya belum pulang, entah muter sampai kemana.
Pertama kali suka novelnya Enid Blyton tuh yang 5 sekawan. Pas di SMP, suka nongkrong di perpustakaan. Bacanya ya novel Enid Blyton ini. Cuma waktu itu nggak nemu yang anak yang badung ini
BalasHapusAku kangeeeen baca buku ini lagiiii 😍😍😍😄. Salah satu buku sekolah asrama yg aku sukaaaaa. Walaupun masih galau lebih suka yg Elizabeth, Malory towers atau si kembar 😄
BalasHapusLengkap aku serial ini mba. Dan memang ga akan pernah bosen bacanya. Anak2 pernah aku suruh baca juga waktu itu . Tp kayaknya blm tamat, trus mereka lupa lanjutin. Hrs aku suruh ulang baca kayaknya 😄
Kak Avi bisa aja ketemu buku-buku lawas 👍
BalasHapusPenerjemahnya memang pas ya, dan untuk menjadi translator kudu yang bener² paham isi dan maksud dari penulis.
Btw, daku tahunya karya Enid Blyton yang 5
Sekawan aja. Kalau yang cerita tentang Badung ini, sepertinya belum pernah daku baca. Soalnya belum karib banget waktu sekolah dengan perpus, malah sohibannya sama jeprat-jepret huhu
aku kayaknya dulu juga pernah baca seri ini cuma memoriku agak kecampur nih antara si badung dan mallory towers karena kan ceritanya mirip-mirip ya tentang kehidupan asrama gitu. Tapi memang enid blyton merupakan penulis yang mengisi masa remajaku dulu
BalasHapusWah, ternyata di balik kenakalan Elizabeth ada rasa homesick dan keinginan untuk diperhatikan ya. Menarik banget karena ceritanya bukan sekadar tentang anak badung yang suka melanggar aturan, tapi juga mengajak kita melihat alasan di balik perilaku anak. Saya juga baru ngeh kenapa judulnya diterjemahkan jadi “Si Badung”, ternyata memang lebih pas dengan karakter Elizabeth yang keras kepala dan susah diatur. Jadi penasaran membaca bukunya, apalagi Enid Blyton memang selalu punya cerita anak yang seru sekaligus banyak pelajarannya.
BalasHapusNostalgia banget baca review ini! Salfok sih, serial Enid Blyton memang selalu berhasil bikin kangen masa-masa sekolah. Penjelasan beda kata 'nakal' dan 'badung' juga menarik banget, jadi makin paham kenapa diksi itu yang dipilih.
BalasHapusNah. Nama penulisnya aku familiar banget karena sebagai salah satu penyuka bacaan lima sekawan. Alhamdulillah sampai sekarang masih ada beberapa buku lima sekawan yang tersisa dan sering berulang ku baca.
BalasHapusMenarik banget nih buku terkait Elizabeth si anak cewek Badung. The Naughtiest Girl in the School, beneran yaaa dia itu bukan asli Badung tetapi karena pengen kembali ke rumahnya. Syukurlah pada akhirnya dia malah betah dan beneran punya teman sesuai harapan ortunya.
kalau nama penulisnya sudah akrab di telinga dari SD, cuman buku ini belum pernah aku baca.
BalasHapusAku selama ini menganggap badung dan nakal punya pengertian yang sama, yaitu nakal. Ternyata ada perbedaan juga ya dua kata ini
ada aja akal anak-anak kalau lagi nyari perhatian ya, tapi kalau nakal begini ehmm termasuk kelewatan sebenernya
Seru sekali ya ceritanya. Ini persis kyk aku dulu sih. Nakalnya lbh ke keras kepala dan ga mau diatur. Mknya suka bikin pelarian dgn mencari perhatian org lain.
BalasHapusIni yg kdg ga dimengerti oleh semua guru, bahkan org tua sekalipun. Anak nakal tuh, apalagi badung, bukan krn sifatnya kyk gt. Anak emg lagi butuh perhatian lbh aja. Apalagi Elizabeth ini anak homeschooling. Otomatis ga pny teman dan sulit bersosialisasi. Stlh disuruh sosialisasi, dia bingung. Akhirnya ya menarik perhatian dgn caranya sendiri. Jd badung dgn berharap bs dibalikin ke rumah. Hehe. Ada2 aja kelakuannya. Untung aja ga ngebully org lain kyk drakor atau drachin ya bun.
Sudah lama banget aku gak baca istilah badung ini di gunakan. Sekarang malah lebih populer kata nakal atau yg leih halus biasanya hyperaktif. Tapi ini khas banget terjemahan tempo dulu dan masih menarik dibahas saat ini. Apalagi kisah anak badung yg akhirnya dimasukin sekolah asrama searang masih relate di bahas hehe
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusWah, ini buku jadul ya mbak
BalasHapusAku bahkan belum lahir saat buku ini terbit
Buku ini punya cerita yang menarik ya, pas buat anak anak.
Sepertinya aku pernah baca deh mbak.
BalasHapusCuma lupa2 inget hehe :D
Wah dari HS ke sekolah formal apalagi dengan banyak murid pasti nggak mudah buat Elizabeth menyesuaikan diri yaa.
Ortunya Elizabeth ini juga napa nggak sekalian ngajak anaknya, padahal kan anaknya HS bisa belajar dari mana aja =))
Badung tu lebih ke dia mencari perhatian nggak sih tetapi suka kelewat iseng gitu?
Kalau nakal keknya udah lebih nyenggol2 orang lain dan merugikan? Eh gitu nggak sih haha.
Aku suka sekali setting2 Eropa lawas gini. Ngingetin aku sama drama2 di TV itu hehe.
Keren bacaannya Mbak
BalasHapusAku ada teman yang anaknya suka baca serial ini dan sekarang cas cis cus kalau ngomong pakai bahasa Inggris
Ceritanya seru katanya ya
Wah, baca reviewnya jadi nostalgia sama cerita anak-anak zaman duluuu. Elizabeth ini emang bikin gemas ya, kelakuannya "badung" tapi ternyata ada sisi lain yang bikin kita ikut memahami. Kadang anak yang kelihatannya nakal memang belum tentu sesederhana itu. Jadi penasaran sama bukunya Mbaaa, kayaknya seru dibaca bareng anak sambil ngobrol soal tingkah lakunya.
BalasHapusWah ternyata badung sama nakal beda ya. Aku belum pernah baca buku Enid Blyton yang ini. Menarik kayanya. Coba aku cari nanti. Semoga masih ada versi cetakan ulangnya kaya lima sekawan.
BalasHapusNostalgia pissaan baca Enid Blyton.
BalasHapusAnakku sekarang juga bacaa.. dan suka meski banyak hal yang dia ga ngerti karena mungkin ga relate sama jaman mereka yaa..
Penasaran sama bukunya masih ada versi aslinya kah?
Saya pernah baca buku ini, tapi sudah lama sekali. Setuju sih dengan penerjemahnya, bahwa badung tak selalu mengindikasikan sebagai nakal. Di sekolah juga sering sekali ketemu anak yg badung. Pada akhirnya setelah tamat justru dia berhasil. Mungkin karena bukan nakal, hanya badung saja.
BalasHapus