Siapa yang dulu suka
nonton Keluarga Cemara? Sinetronnya pernah ditayangkan di TV swasta dan daku
ingat pemeran si emak juga diganti. Cerita ini diadaptasi dari buku berjudul
sama, yang ditulis oleh almarhum Arswendo. Bukunya bisa dibaca di aplikasi
Ipusnas yaa.
Kembali ke Keluarga
Cemara. Dulu daku tidak baca bukunya tapi nonton versi serialnya dan memang
dibuat punya cerita yang sama persis. Akan tetapi, menyimak buku Keluarga
Cemara saat sudah dewasa membuatku punya perspektif yang berbeda.
Pekerjaan
Abah
Keluarga Cemara adalah
cerita Abah (ayah), emak (ibu), dan 3 putrinya: Euis, Ara, Agil. Mereka dulu
orang yang cukup berada tapi kemudian bangkrut. Akhirnya Abah menjadi tukang
becak demi sesuap nasi.
Ternyata pekerjaan Abah
tidak hanya mengayuh becak. Namun beliau juga menjadi buruh sawah. Tapi di
versi sinetron Cuma diperlihatkan adegan-adegan saat Abah jadi pak becak.
Kesedihan
Euis
Euis adalah putri pertama Abah yang berjualan opak di terminal dan tempat lain. Dia tetap sekolah, jadi jualannya di luar jam pelajaran.
Di buku terlihat kesedihan Euis,
yang terlalu sibuk jualan opak dan akhirnya tidak naik kelas.
Ara
dan Agil
Euis punya 2 adik yakni
Ara dan Agil. Sedihnya ketika Agil mengompol maka Ara kebauan dan kena juga,
karena mereka masih tidur seranjang. Perlak plastik yang disiapkan sebagai alas
kasur juga tidak mempan.
Ketegaran
Emak
Coba deh kalau kalian
jadi Emak, suami bangkrut, hidup dengan sangat sederhana, dan harus bikin opak
untuk dijual. Apa tidak stress? Tapi Emak tetap tegar dan setia di samping
Abah, bukannya: ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.
Orang Miskin Di-bully
Ketika sudah dewasa,
baca Keluarga Cemara kok jadi nyesek ya? Merasakan betapa tidak enaknya jadi
orang miskin. Contohnya saat Ara menghadiri pesta ulang tahun temannya. Dia
memberi hadiah berupa puisi bikinan Abah. Tapi semua orang tak percaya karena
Abah hanya seorang tukang becak.
Kalau di serialnya ada
lagu: harta yang paling berharga adalah keluarga. Mungkin maksud Pak Arswendo
adalah walau seseorang berasal dari keluarga sederhana tapi dia tetap senang.
Tapii daku tetap memilih untuk kaya dan bahagia, kalau kamu bagaimana?




Aku belum baca bukunya sih, tapi kalo inget jaman SD pas nonton di R**I tuh merasa ini sinetron terlalu banyak penderitaannya daripada senangnya. Padahal jadi orang miskin ya tuh ya emang miskin tapi tidak lara hati banget kayak cerita Cemara., tapi karena cerita Cemara itu, aku jadi banyak bersyukur meskipun hidup kami tidak senelangsa keluarganya Euis..
BalasHapussehat-sehat ya kita, biar bisa mencukupi kebutuhan keluarga kita.
Waktu serial Keluarga Cemara sedang tayang di TV, sepertinya aku terlalu kecil untuk bisa paham jalan ceritanya gimana. Cuma tau sekadarnya saja.
BalasHapusTapi tau lagunya, dan ngeuh sekadarnya. Lalu baca cerita Mba di sini, jadi merasa ternyata buku dan serialnya itu menggambarkan "bagaimana sebuah keluarga tetap bertahan ketika ditimpa derita" ya. Dan, semua kebagian rasanya, baik Abah, Emak, sampai ketiga anaknya.
Kebayang gimana rasanya ketika orang lain nggak percaya kalau seseorang punya kemampuan baik, cuma gara-gara dianggap miskin. Pas baca part ini, aku jleb banget.
Baru tahu nih ada bukunya keluarga cemara. Itu film udah lamaa bgt gak nonton. Pas kecil nggak terlalu suka ceritanya, jadi jarang nonton sih. Dulu sukanya cerita kartun sama cerita tentang kehidupan luar negeri gitu. Tapi salut sama ceritanya ara, agil dan euis. Mereka mencontohkan kerja keras dari kecil.
BalasHapus