Minggu, 23 November 2025

Membaca Buku Keluarga Cemara saat Sudah Dewasa

 

Siapa yang dulu suka nonton Keluarga Cemara? Sinetronnya pernah ditayangkan di TV swasta dan daku ingat pemeran si emak juga diganti. Cerita ini diadaptasi dari buku berjudul sama, yang ditulis oleh almarhum Arswendo. Bukunya bisa dibaca di aplikasi Ipusnas yaa.



Kembali ke Keluarga Cemara. Dulu daku tidak baca bukunya tapi nonton versi serialnya dan memang dibuat punya cerita yang sama persis. Akan tetapi, menyimak buku Keluarga Cemara saat sudah dewasa membuatku punya perspektif yang berbeda.

Pekerjaan Abah

Keluarga Cemara adalah cerita Abah (ayah), emak (ibu), dan 3 putrinya: Euis, Ara, Agil. Mereka dulu orang yang cukup berada tapi kemudian bangkrut. Akhirnya Abah menjadi tukang becak demi sesuap nasi.



Ternyata pekerjaan Abah tidak hanya mengayuh becak. Namun beliau juga menjadi buruh sawah. Tapi di versi sinetron Cuma diperlihatkan adegan-adegan saat Abah jadi pak becak.

Kesedihan Euis

Euis adalah putri pertama Abah yang berjualan opak di terminal dan tempat lain. Dia tetap sekolah, jadi jualannya di luar jam pelajaran. 



Di buku terlihat kesedihan Euis, yang terlalu sibuk jualan opak dan akhirnya tidak naik kelas.

Ara dan Agil

Euis punya 2 adik yakni Ara dan Agil. Sedihnya ketika Agil mengompol maka Ara kebauan dan kena juga, karena mereka masih tidur seranjang. Perlak plastik yang disiapkan sebagai alas kasur juga tidak mempan.

Ketegaran Emak





Coba deh kalau kalian jadi Emak, suami bangkrut, hidup dengan sangat sederhana, dan harus bikin opak untuk dijual. Apa tidak stress? Tapi Emak tetap tegar dan setia di samping Abah, bukannya: ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.

Orang Miskin Di-bully

Ketika sudah dewasa, baca Keluarga Cemara kok jadi nyesek ya? Merasakan betapa tidak enaknya jadi orang miskin. Contohnya saat Ara menghadiri pesta ulang tahun temannya. Dia memberi hadiah berupa puisi bikinan Abah. Tapi semua orang tak percaya karena Abah hanya seorang tukang becak.

Kalau di serialnya ada lagu: harta yang paling berharga adalah keluarga. Mungkin maksud Pak Arswendo adalah walau seseorang berasal dari keluarga sederhana tapi dia tetap senang. Tapii daku tetap memilih untuk kaya dan bahagia, kalau kamu bagaimana?

3 komentar:

  1. Aku belum baca bukunya sih, tapi kalo inget jaman SD pas nonton di R**I tuh merasa ini sinetron terlalu banyak penderitaannya daripada senangnya. Padahal jadi orang miskin ya tuh ya emang miskin tapi tidak lara hati banget kayak cerita Cemara., tapi karena cerita Cemara itu, aku jadi banyak bersyukur meskipun hidup kami tidak senelangsa keluarganya Euis..
    sehat-sehat ya kita, biar bisa mencukupi kebutuhan keluarga kita.

    BalasHapus
  2. Waktu serial Keluarga Cemara sedang tayang di TV, sepertinya aku terlalu kecil untuk bisa paham jalan ceritanya gimana. Cuma tau sekadarnya saja.

    Tapi tau lagunya, dan ngeuh sekadarnya. Lalu baca cerita Mba di sini, jadi merasa ternyata buku dan serialnya itu menggambarkan "bagaimana sebuah keluarga tetap bertahan ketika ditimpa derita" ya. Dan, semua kebagian rasanya, baik Abah, Emak, sampai ketiga anaknya.

    Kebayang gimana rasanya ketika orang lain nggak percaya kalau seseorang punya kemampuan baik, cuma gara-gara dianggap miskin. Pas baca part ini, aku jleb banget.

    BalasHapus
  3. Baru tahu nih ada bukunya keluarga cemara. Itu film udah lamaa bgt gak nonton. Pas kecil nggak terlalu suka ceritanya, jadi jarang nonton sih. Dulu sukanya cerita kartun sama cerita tentang kehidupan luar negeri gitu. Tapi salut sama ceritanya ara, agil dan euis. Mereka mencontohkan kerja keras dari kecil.

    BalasHapus