Selasa, 16 Juni 2026

Uniknya Dahlan dan Evolusi Media di Indonesia

Siapa yang tak kenal Pak Dahlan Iskan? Beliau pernah menjadi wartawan, boss perusahaan media nasional, dan juga menteri di era SBY. Nah, daku berkesempatan untuk baca buku “Uniknya Dahlan” yang ditulis oleh salah satu wartawan. Sesuai dengan judulnya, buku ini berisi tentang kisah-kisah unik dan lucu mengenai beliau.

BTW ini data-data bukunya:

Judul   : Uniknya Dahlan

Penulis: M. Djupri

Penerbit: Noura Publishing

Editor: Rini Nurul Badaria

Tahun  : 2013



Ada banyak kisah tentang Dahlan Iskan yang unik. Salah satunya adalah ketika dikira agen Koran. Bagaimana bisa? One day, beliau datang ke kantor redaksi dan duduk di sebelah telepon, sengaja menunggu apakah ada pelanggan yang menghubungi. Benar, kala itu ada pelanggan yang protes karena korannya datang siang hari.

Pak Dahlan minta maaf berkali-kali lalu beliau langsung mengantar Koran sendiri, dengan memakai sepeda motor. Pelanggan senang, beliau lega.



Hal yang hampir sama terjadi, beliau dikira agen Koran oleh penjaga hotel, karena mengantar Koran yang memuat tentang kemenangan Persebaya (yang timnya menginap di sana). Mungkin itu kejadian lebih dari 20 tahun lalu sehingga pak penjaga tidak tahu wajah beliau (yang sebenarnya gampang dicari di google).

Kemudian, ada satu lagi kejadian ketika Pak Dahlan menggunakan istilah unik seperti ‘aministrasi” atau “tompo”. Warga desa (pada masa kecil beliau) menyebut administrasi sebagai aminitrasi, dan jangan sampai memusingkan kepala. Sedangkan tompo adalah wadah yang dipakai para pedagang di pasar untuk menyimpan uang.

Revolusi Media di Indonesia

Meski menyorot tentang Dahlan Iskan, buku Uniknya Dahlan secara tidak langsung juga menyorot tentang evolusi media di Indonesia. Pertama, dulu ketika belum ada program editing layout di komputer, maka dilayout secara manual. Pasti lebih lama dan butuh ketelitian yang lebih tinggi.



Kedua, dulu juga belum ada cetak Koran jarak jauh. Jadi Koran dicetak lalu didistribusikan di kota-kota di Indonesia. Kalau sekarang kan enak, bisa cetak dari jarak puluhan bahkan ratusan kilometer dengan memanfaatkan teknologi.

Read: Kepak Sayap Putri Prajurit, Biografi Ani Yudhoyono

Akan tetapi teknologi juga bisa jadi pisau bermata dua. Kalau dulu pebisnis mau pasang iklan ya langsung datang ke kantor redaksi. Tapi sekarang iklan bisa ditulis di akun media social atau memakai advertisement berbayar.

Koran Cetak vs Online

Koran cetak yang saat ini masih terbit juga tidak sebanyak dulu (baca: sebelum tahun 2000). Penyebabnya karena masyarakat lebih memilih untuk baca media online daripada Koran cetak. Beritanya lebih cepat dan bisa didapat dengan mudah, tinggal buka HP aja.



Di sinilah evolusi media terjadi, saat Koran cetak berubah menjadi versi online. Jika di buku, seorang agen Koran disuruh meningkatkan jumlah pelanggan. Tapi kalau media online, kru diminta untuk menaikkan jumlah viewers (karena otomatis akan menarik minat para pengiklan).

Begitu juga dengan cerita seorang penjaga kantor biro yang dimarahi, karena Pak Dahlan merasa tempat itu kotor. Jika dulu tujuan kantor dibersihkan dan dicat ulang untuk menarik banyak calon peminat iklan. Tapi sekarang yang dibersihkan dan di-SEO-kan adalah situs beritanya, bersih dari segala virus, malware, black campaign, dll.



Dunia bergerak begitu cepat, Koran cetak banyak yang berubah jadi media online. Meski daku masih suka baca Koran cetak, tapi kenyataannya peminat Koran online juga makin banyak. Saat evolusi media terjadi maka para pebisnis media juga perlu berubah menjadi lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar