Sabtu, 27 Juni 2026

Membaca Ulang Buku-Buku Enid Blyton Ketika Sudah Dewasa

 

Siapa yang suka baca novel Lima Sekawan, Seri Petualangan, Malory Towers, Pasukan Mau Tau, dan Si Badung? Enid Blyton memang terkenal karena membuat kisah-kisah yang seru. Para remaja jadi detektif andal dan pembaca menebak-nebak siapa pelaku yang sebenarnya.



Selain itu ada juga Seri Kumbang yang merupakan kumpulan cerpen untuk anak-anak. Dengan ilustrasi yang bagus maka kalian akan juga menikmatinya. FYI, dulu daku sempat jadi reseller buku dan berhasil menjual banyak paket buku Seri Kumbang, karena memang popular dan banyak peminatnya.

Akan tetapi, ketika membaca ulang buku-buku Enid Blyton ketika sudah dewasa kok beda rasanya. Ceritanya tetap bagus, tapi ada banyak pertanyaan di kepala. Ada juga pelajaran-pelajaran hidup yang bisa dipetik dari kisah-kisahnya.

Dunia yang Sudah Berubah Begitu Cepat

Buku-buku Enid yang diterjemahkan di Indonesia ternyata pertama kali terbit puluhan tahun lalu, jauh sebelum tahun 2000. Tak heran penggambaran pada masa itu, masyarakat sudah menggunakan radio dan telepon rumah. Tapi tidak ada komputer ( karena belum ada di pasaran).

                                           Enid Blyton

Dunia sudah berubah dengan sangat cepat. Sekarang komunikasi bisa lewat HP. Coba kalau geng Lima Sekawan hidup di masa kini. Mereka bisa lebih cepat koordinasi lewat WA, atau malah memecahkan kasus sambil ngonten?

Ini juga yang jadi poin penting ketika membacakan cerita-cerita karya Enid Blyton pada Saladin. Daku juga wajib menjelaskan keadaan pada masa itu. Di mana masyarakat masih berkirim surat, anak-anak mengantar sendiri paket untuk nenek dengan berjalan kaki, dll. Daku bilang ke Saladin kalau sekarang enak, tidak usah surat-menyurat tapi bisa pakai email, dan kirim parcel bisa via ojol atau ekspedisi.

Kebebasan pada Geng Lima Sekawan

            Yang paling mencengangkan adalah Fanny Kirrin (ibunya George) dan orang tua Dick, Julian, dan Anne, memberi kebebasan pada mereka untuk liburan tanpa ada pamong (pengawas yang sudah dewasa). 

Read: Review Buku Lima Sekawan: Harta Finninston

Padahal Julian saat itu belum berusia 17 tahun lho. Jika Timmy the dog juga jadi penjaga maka juga dirasa aman. Yaa mungkin dulu situasi masih relatif belum seramai sekarang, tidak ada isu penculikan anak, kejahatan di jalan, etc.

Anak Diajari Mandiri Sejak Kecil

Salah satu yang bagus untuk ditiru dari buku-buku karya Enid Blyton adalah anak-anak sudah diajari untuk mandiri sejak kecil. Misalnya ada tokoh yang masih SD tapi sudah disuruh menjahit kancing sepatunya sendiri, belanja ke toko, naik bus kota, dll. Tidak ada yang namanya anak manjaaa.

Read: Belajar Parenting dari Karya Enid Blyton

Apa Peri Benar-benar Ada?

Enid Blyton juga suka bikin cerita fantasi dan menghadirkan nenek sihir, peri, dll. Biasanya sih daku skip aja bagian ini. Soalnya peri digambarkan sebagai makhluk yang suka menghukum anak nakal.

Enid Blyton the Brilliant Writer

Jadii kita tuh bisa meniru kinerja Enid Blyton yang luarrr biasaa. Konon, dalam sehari doski bisa menulis 5.000 kata, dan tidak pakai plot, outline, etc! Kata doski, cerita di novel sudah tergambar seperti film di imajinasinya, dan tinggal diketik saja. Tak heran buku yang dihasilkan banyaak sekali dan tentu royaltinya juga melimpah.

Read: Review Lima Sekawan: Dalam Lorong Pencoleng

Bayangkan, puluhan tahun lalu doski mengetik pakai mesin tik (atau mungkin dengan tangan). Kalau salah harus mengulang lagi, memasukkan kertas, dll. Kita yang bisa mengetik pakai laptop atau HP pasti bisa lah serajin doski, apalagi ada banyak kemudahan dengan teknologi terkini.

Membaca ulang buku-buku yang pernah dinikmati waktu kecil bisa jadi nostalgia dan coping mechanism yang sehat. Setelah baca Lima Sekawan dan Seri Kumbang, daku mau baca lagi Seri Si Badung yang kocak. Mana buku Enid Blyton favoritmu?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar