Selasa, 09 Juni 2026

Review Buku Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang, Kepulangan NH Dini ke Indonesia

Sudah tinggal dengan nyaman di Prancis tapi kok malah pulang ke Indonesia? Bisa jadi itu salah satu pertanyaan para pembaca ketika membaca buku-buku Bu NH Dini. Sayang beliau sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu, jadi tidak bisa tanya secara langsung. Namun beliau menjawabnya di buku “Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang”.

Ini data bukunya:

Penulis             : NH Dini

Tahun              : 2012

 

Bisa dibaca gratis di Ipusnas.

            Kehidupan di Prancis tidak selalu glamour, itu yang dipaparkan di awal bagian buku ini. Bu Dini bercerita tentang pekerjaannya sebagai pendamping seorang pria tua, dan tugasnya adalah menemani mengobrol, memasak, dll. Walau mendapat gaji lumayan tapi beliau tetap berhemat, caranya dengan menjahit baju dan membuat rajutan sendiri.



Lantas di mana keluarganya? Kala itu NH Dini sudah berpisah dengan ex suaminya (tapi belum resmi divorce). Lantas Lintang dan Padang (anak-anaknya) ikut sang papa. Akhirnya beliau memutuskan jalan lain karena tidak tahan dengan sifat ex yang pelit dan emosional.

Kita kembali ke cerita di buku. Menjadi pendamping pria tua ternyata ada tidak enaknya. Walau alat-alat dapur sudah modern dan pekerjaannya tidak terlalu berat, tapi NH Dini mulai risih karena majikannya genit. Kondisi kesehatan Bu Dini juga menurun (bleeding) sehingga beliau memantapkan diri untuk resign.

Kembali ke Indonesia                     

            Akhirnya Bu Dini kembali ke Indonesia, setelah berdiskusi dengan beberapa sahabat. Yang unik adalah ada salah satu tokoh yang bilang kalau “Indonesia adalah negeri sulapan”. Namun beliau yakin akan kembali, karena salah satu sahabat bilang kalau Indonesia kekurangan penulis perempuan, sedangkan di Prancis sudah banyak.



Walau dapat banyak tawaran untuk tinggal di rumah sahabat-sahabatnya, tapi Bu Dini tetap menuju Jl. Lembang, rumah bibinya. Di sana beliau disambut dengan sangat baik, bahkan akan dibuatkan kamar sendiri. Kebaikan hati sang bibi dan sepupu-sepupunya sangat luar biasa.

Perjalanan ke Sumatra

Ketika kembali ke Indonesia maka NH Dini ditawari oleh banyak majalah wanita untuk menjadi anggota redaksi. Namun beliau menolak karena ingin bekerja secara mandiri. Kejutan datang dari sebuah lembaga: beliau diminta untuk datang ke Sumatra dan menulis liputan.



Kala itu (tahun 80-an) ada operasi “giring ganesha” (jadi ingat mantan vokalis band gak sih?). Para gajah yang ada di Sumatra dipindah ke tempat lain yang lebih aman. Bu Dini dikawal oleh sejumlah aparat, dan merasa waswas karena di hutan masih ada ular. Untung operasi ini sukses besar dan semua orang selamat.

Menyepi di Kalimantan

Selain Sumatra, NH Dini juga berkesempatan untuk mendatangi Kalimantan. Seorang kawan lama (yang seniman patung) memintanya untuk jadi kepala pengurus dapur. Para seniman akan membuat kaligrafi raksasa, yang berbahan kayu Kalimantan. Pengerjaan memang dilakukan di sana agar kayunya tidak rusak.



Selama sebulan lebih NH Dini ternyata betah. Tugas beliau tidak berat karena tidak memasak, karena ada tukang masak. Tapi hanya mengatur menu dan menyimpan bahan masakan. Namun yang paling menarik adalah satwa-satwa liar yang asyik untuk diamati, dan kehidupan di sana yang jadi inspirasi buku.

Pernikahan Lintang

            Setelah kembali dari Kalimantan dan beradaptasi lagi dengan kehidupan cepat di Jakarta, Bu Dini terkejut karena Lintang (putri sulungnya) memberi kabar baik: dia akan menikah. Walau sang papa tidak memberi restu tapi Lintang yakin mamanya memberi izin. Bu Dini tentu saja bahagia dan menghadiri pernikahan itu, bahkan mempersiapkan hidangannya.



            NH Dini emang jago banget dalam storytelling dan digambarkan berbagai makanan saat pernikahan Lintang: sup ikan ala Vietnam, sate, dll. Diceritakan juga bagaimana pakaian beliau yang selalu serasi. Klean yang belajar storytelling wajib baca buku-buku beliau.

Parenting ala NH Dini

            Di buku “Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang digambarkan parenting ala NH Dini: mendukung dan mendidik anak. Lintang memilih calon suaminya sendiri (tidak disyaratkan harus kaya-raya). Sementara Padang saat berkunjung ke Indonesia, diajak wisata alam, ke Bromo, Meru Betiri, dll.

Motivasi Menulis

Apa hal yang paling kusukai dari buku ini? Motivasi menulis. Kamu sudah punya laptop dan HP tapi kalau diminta menulis malah alasan melulu. Tapi coba bayangkan puluhan tahun lalu, Bu Dini mengetik memakai mesin ketik, bahkan menulis dengan tangan, dan dilakukan tiap hari. Yang penting tekad untuk menulis, bukan?



Dari Rue saint Simon ke Jalan Lembang bukanlah novel, tapi merupakan penggalan dari biografi NH Dini. Beliau memang sengaja menulisnya jadi belasan bagian karena kisah hidupnya panjang. Apa judul buku NH Dini favoritmu?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar